Topswara.com -- Dunia pendidikan dibuat geger lantaran ditangkapnya seorang pelajar yang menjadi pengedar sabu. Dalam jangka waktu berdekatan, dua pelajar tertangkap lantaran terkait kasus narkoba.
Seorang pelajar di daerah NTB berinisial KF ditangkap polisi saat hendak mengedarkan sabu. Kasat Resnarkoba AKP Jahyadi Sibawaih mengungkapkan bahwa KF yang masih berstatus pelajar ditangkap bersama SH (28) yang statusnya tidak bekerja. Keduanya ditangkap bersama barang bukti sabu yang ditanam di tanah, alat isap, dan uang tunai sebesar Rp1,5 juta. (detik.com, 2-4-2026)
Kasus pelajar jadi pengedar juga ditemukan di Kendari, Sulawesi Tenggara. Tim Opsnal Satuan Reserse Narkoba Polresta Kendari meringkus pelajar berinisial HS (19) bersama puluhan paket sabu-sabu yang tersebar di berbagai tempat, mulai dari Kota Kendari hingga wilayah Kabupaten Konawe Selatan.
Tersangka menyimpan atau ‘menempel’ paket sabu di berberapa lokasi agar tidak mudah terdeteksi. Secara keseluruhan, polisi berhasil mengamankan 31 paket sabu dengan berat bruto 6.02 gram beserta barang bukti lain yang digunakan untuk mengemas dan mengedarkan narkotika. (rri.co.id, 30-3-2026).
Bobroknya para pelajar dengan terperosoknya dalam dunia kelam sabu seolah menjadi alarm bagi kita bahwa sistem pendidikan saat ini sangatlah jauh dari agama dan moral. Kurikulum yang didasarkan pada sistem kapitalis sekuler terbukti hanya menghasilkan manusia berorientasi cuan tanpa memperdulikan halal haram sebuah perbuatan.
Sistem sanksi yang lemah kian memperparah keadaan. Hukum tidak memberikan efek jera sehingga membuka celah pelanggaran terjadi dan berulang. Sanksi cenderung ringan, bahkan bisa dikompromikan. Tidak adanya ketegasan hukum inilah yang membuat masyarakat, termasuk pelajar mudah terjerat aktivitas yang melanggar hukum.
Hal ini tentulah sangat berbeda bila kita melihat pada sistem Islam yang sempurna. Sistem Islam yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia memberikan aturan yang terperinci dan mendetail. Mulai dari aspek pendidikan hingga hukum, Islam mengaturnya dengan baik.
Aspek pendidikan untuk generasi diatur dengan sistem yang berlandaskan akidah Islam. Sistem pendidikan Islam ini bertujuan untuk membentuk generasi agar memiliki kepribadian Islam yang utuh. Dengan kurikulum berbasis akidah Islam, generasi dibina sehingga pola pikir dan pola sikapnya islami.
Sistem pendidikan Islam tidak hanya mencetak generasi unggul pengisi peradaban, tetapi juga pribadi yang bertakwa. Generasi cerdas dan menguasai keterampilan hidup yang senantiasa memegang standar halal haram dalam setiap aktivitas kehidupannya.
Sistem pendidikan ini tidak berdiri sendiri, melainkan juga ditopang peran keluarga, masyarakat dan negara yang saling berkesinambungan. Islam memerintahkan orang tua untuk bersungguh-sungguh dalam mendampingi dan mendidik putra-putrinya dengan menanamkan dasar-dasar ke-Islam-an yang memadai serta menjadi teladan terbaik untuk putra-putrinya.
Sistem Islam juga menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan generasi. Budaya amar makruf nahi mungkar hidup dan menjadi pengontrol sosial yang efektif di tengah masyarakat.
Adanya sistem kontrol sosial masyarakat ini memungkinkan setiap benih keburukan atau kejahatan dapat dicegah sejak dini. Dengan begitu, generasi pun akan terjaga dari segala pengaruh buruk.
Selain itu, sistem Islam juga memaksimalkan peran negara dengan memberikan sanksi hukum yang tegas bagi siapa pun yang melanggar. Baik pembuat, pengedar, maupun pengguna narkoba akan dikenai sanksi tanpa memperdulikan kedudukan maupun kekayaannya.
Hal ini seperti yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah ketika tanpa pandang bulu menjatuhi hukuman potong tangan terhadap seorang bangsawan cantik yang diketahui mencuri. Ketegasan sanksi inilah yang akan memberikan efek jera baik bagi pelaku maupun masyarakat umum lainnya.
Inilah sistem Islam, sistem yang diturunkan oleh Sang Pencipta alam semesta agar kehidupan berlangsung harmonis dan terjaga. Karena itu, untuk menjaga generasi dari segala bahaya, penerapan sistem Islam menjadi sebuah keniscayaan.
Penjagaan Islam yang paripurna akan menghasilkan generasi bertakwa yang senantiasa berusaha menjaga perbuatannya. Para pelajar pun dengan kesadaran penuh akan menjauhi segala hal yang dilarang oleh syariat seperti halnya narkoba. Mereka tidak akan menjerumuskan diri kepada hal-hal yang Allah benci.
Beragam masalah yang muncul dan berkembang di tengah kehidupan saat ini, termasuk kasus pelajar terjerat narkoba merupakan hasil dari penerapan aturan manusia yang nyata-nyata menyalahi hukum-Nya. Maka, masihkah kita mempertahankan sistem saat ini dengan mengabaikan aturan-Nya yang telah memberikan jaminan untuk kebahagiaan dunia akhirat?
Oleh: Esti Dwi
Aktivis Muslimah

0 Komentar