Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Merajut Ukhuwah, Mengukir Peradaban


Topswara.com -- Jumat malam, 17 April 2026, ruang virtual dipenuhi semangat ukhuwah dan kesadaran dakwah dalam gelaran Open House TintaSiyasi ke-7 yang mengusung tema “Merajut Ukhuwah, Mengukir Peradaban.” 

Acara yang berlangsung pukul 19.30 - 21.00 WIB ini dihadiri para kontributor dari media dakwah TintaSiyasi, Topswara, dan Mutiara Umat.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber yang berperan penting dalam ekosistem media dakwah tersebut, yakni Ustdz Joko Prasetyo, Puspita Setyawati, Ika Mawarningtyas, Trisnawati, serta jajaran editor: Emmy Emmalya, Nurmilati, Alfia Purwanti, Reni T, dan Dewi S. Acara dipandu dengan hangat oleh Tenira yang menjaga alur diskusi tetap hidup dan interaktif.

Undangan yang disampaikan sebelumnya tidak hanya mengajak hadir, tetapi juga mendorong peserta untuk berkontribusi aktif melalui pertanyaan, kritik, dan saran demi kemajuan media dakwah ke depan. Hal ini menunjukkan bahwa forum ini bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga ruang evaluasi dan penguatan peran dakwah berbasis tulisan.

Salah satu momen penting dalam acara ini adalah penyampaian motivasi oleh Ustadz Joko Prasetyo (Om Joy) yang menggugah kesadaran para penulis akan peran strategis mereka dalam membentuk opini umat. Dalam pemaparannya, beliau menekankan beberapa poin penting:

Pertama, aktivitas menulis dan jurnalistik yang dijalani para kontributor merupakan bentuk kepedulian terhadap umat. Meski berasal dari latar belakang dan gaya penulisan yang berbeda, seluruh kontributor disatukan oleh tujuan besar: menghadirkan Islam sebagai cara pandang dalam memahami realitas.

Kedua, di tengah derasnya arus opini yang bertebaran setiap saat, pertarungan sesungguhnya terletak pada siapa yang mengendalikan narasi. Fakta tidak berdiri sendiri, tetapi dibentuk oleh cara penyajian dan penafsirannya. Sayangnya, banyak narasi dominan saat ini justru menjauhkan umat dari nilai-nilai Islam.

Ketiga, peran media dakwah seperti TintaSiyasi, Topswara, dan Mutiara Umat menjadi sangat strategis. Para penulis tidak hanya menyampaikan apa yang terjadi, tetapi mengarahkan bagaimana umat seharusnya memahami peristiwa dengan perspektif Islam.

Keempat, jalan dakwah melalui tulisan bukanlah jalan yang mudah. Minimnya apresiasi, perbedaan pandangan, hingga rasa berjalan sendiri kerap menjadi tantangan. Namun, nilai dakwah justru terletak pada keikhlasan dalam menunaikan amanah, bukan pada popularitas.

Kelima, setiap kata yang ditulis memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt., sebagaimana diingatkan dalam QS. Qaf:18 bahwa setiap ucapan akan dicatat.

Keenam, para kontributor diajak untuk naik level, tidak sekadar menjadi penulis, tetapi menjadi pejuang pemikiran. Menulis bukan hanya saat diminta, tetapi sebagai bagian dari dakwah yang tidak boleh kosong.

Ketujuh, satu tulisan dapat mengubah cara berpikir, dan cara berpikir dapat mengubah arah hidup. Dari sanalah peradaban dibangun.

Kedelapan, pentingnya ukhuwah dalam dakwah juga ditekankan. Editor menjaga kejernihan pesan, sementara penulis menyampaikan amanah. Kebersamaan yang dilandasi keikhlasan menjadi kekuatan besar.

Kesembilan, problem umat hari ini bukan kekurangan orang pintar, melainkan kurangnya keberanian untuk berpihak pada kebenaran. Banyak yang memahami, namun memilih diam padahal di situlah celah kebatilan mengambil ruang.

Sebagai penutup, diserukan ajakan tegas kepada seluruh peserta: menulislah, bahkan ketika tidak diminta dan tidak dijanjikan apa-apa. 

Karena setiap tulisan adalah sikap, setiap kalimat adalah keberpihakan. Kelak, yang ditanya bukan seberapa banyak tulisan dibaca, tetapi apakah kebenaran telah disuarakan.

Open House ini menjadi pengingat bahwa pena bukan sekadar alat ekspresi, melainkan instrumen perjuangan. 

Dari ruang virtual yang sederhana, ukhuwah dirajut dan peradaban diikhtiarkan melalui kata, makna, dan keberanian untuk berpihak pada Islam. 

Wallahu a'lam bishawwab.


Mamik Susanti 
(Aktivis Muslimah)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar