Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Perempuan Mulia hanya dengan Syariat Islam

Topswara.com -- International Women Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional setiap tahunnya diperingati pada 8 Maret. Adapun ditahun ini, akan mengangkat tema, 'Invest in women: Accelerate progress' yang artinya 'Berinvestasi pada perempuan: Mempercepat Kemajuan'. 

Kepala Program UN Women Indonesia Dwi Faiz menyebut bahwa menjamin pemenuhan hak-hak perempuan dan anak perempuan di seluruh aspek kehidupan adalah satu-satunya cara untuk memastikan perekonomian yang sejahtera dan adil, planet yang sehat untuk generasi mendatang, dan tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). (liputan6.com 1/3/2024)

Berdasarkan tema tersebut, nampak bahwa negara didorong untuk berinvestasi terhadap perempuan secara konkret agar bisa maju, belajar, dan berkarya, termasuk menyediakan dana yang cukup untuk mewujudkan kesetaraan gender yang selama ini digadang-gadang sebagai solusi problematika kaum perempuan. 

Selain itu, kaum perempuan juga didorong untuk berkarya dan bekerja agar dapat berperan untuk mengentaskan kemiskinan yang saat ini terjadi. Dengan perempuan berkarya dan bekerja maka dianggap akan menopang perekonomian keluarga. 

Semua ini tentunya dalam kacamata kehidupan kapitalisme yang sedang diterapkan ditengah kehidupan kita. Kesetaraan gender adalah turunan dari ide kapitalisme sekularisme. Maka wajar, jika pandangan terhadap perempuan semata-mata adalah pandangan materi. 

Perempuan didorong untuk berkiprah diranah publik semata karena dorongan ekonomi. Bahkan dalam pandangan kapitalisme sekuler, perempuan mulia jika mampu berkarya dan bekerja dan berpenghasilan. 

Padahal, banyak hal yang sudah terjadi pada kaum perempuan dalam pola asuhan kapitalisme. Kasus kejahatan yang menimpa kaum perempuan juga terus terjadi. Pembunuhan, KDRT, tinggi nya tingkat perceraian atas gugatan istri dan masih banyak kasus lainnya. 

Bahkan semua kerusakan yang terjadi pada kaum perempuan berdampak pada kehidupan keluarga dan generasi. Disaat seorang ibu bekerja dan berkiprah diluar rumah, kewajiban mengasuh dan mendidik anak nya akan digantikan dengan orang lain. 

Bahkan tidak sedikit generasi hancur karena orang tua sibuk bekerja. Sungguh sebuah pemikiran yang sangat dangkal jika memandang persoalan perempuan hanya sebatas aspek ekonomi dan pemberdayaan.

Islam mendidik investasi perempuan adalah sebagai aset berharga bagi negara. Hal ini karena ditangan perempuan lah akan terukir peradaban cemerlang. Ditangan perempuan pula akan lahir generasi penerus peradaban. 

Oleh sebab itu, Islam telah menetapkan seperangkat aturan di dalam hukum syarak khusus bagi perempuan yang dengan nya perempuan akan mulia. Dengan menjalankan perintah beriman kepada Allah dan Rasulullah, menjalankan syariat islam kaffah akan terjaga iffah (kesucian) dan 'izzah (kemuliaan) sebagai perempuan. Perempuan dalam asuhan syariat yang akan melahirkan generasi penerus peradaban yang mulia. Bukan dalam asuhan kapitalisme.

Islam menetapkan bahwa negara bertanggungjawab untuk memenuhi hak setiap individu termasuk pendidikan dan kesempatan yang sama untuk berkarya. Namun Islam memiliki ketentuan rinci atas peran serta perempuan dan kiprahnya dalam masyarakat. 

Dalam pandangan Islam, perempuan bekerja hukum nya mubah (boleh). Namun wajib memperhatikan batasan-batasan syarak seperti menutup aurat sempurna, larangan khalwat, larangan ikhtilat dan lain-lain. Bahkan yang paling penting untuk kita ingat bahwa Islam menetapkan perempuan sebagai ummu wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga). Inilah tugas pertama dan utama seorang perempuan.

Maka, sangat jelas bahwa perempuan mulia hanya dalam Islam. Dengan menerapkan syariat Islam kaffah akan mewujudkan investasi perempuan-perempuan hebat tidak hanya dalam kiprahnya di dunia sebagai pencetak dan pendidik generasi, tetapi juga di akhirat.

Wallahua'lam Bisshawab.


Oleh: Pipit Ayu
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar