Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hijrah Total dan Kendalikan Nafsumu

Topswara.com -- Sobat, diriwayatkan dari Rasulullah Muhammad SAW, beliau pernah bersabda, pertama, siapa yang pada pagi harinya mengeluh kesulitan hidup, maka dia sama dengan mengeluhkan Tuhannya. Dua, siapa yang pada pagi harinya bersedih karena urusan dunia, maka dia pada pagi hari itu telah membenci ketetapan Allah SWT. Tiga, siapa yang merendahkan diri pada orang kaya karena kagum pada kekayaannya, sungguh telah hilang dua pertiga dari agamanya. (Nashoihul Ibad).

Hadis yang penulis sebutkan mengandung pesan moral dan ajaran yang penting dalam Islam. Berikut adalah penafsiran dari hadis tersebut:

1. Mengeluhkan Kesulitan Hidup: Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan bahwa ketika seseorang mengeluh tentang kesulitan hidup yang dialaminya, ia sebenarnya mengeluh kepada Allah SWT. Ini menunjukkan pentingnya bersabar dan menerima ujian hidup sebagai bagian dari takdir yang ditetapkan oleh Allah.

2. Bersedih karena Urusan Dunia: Jika seseorang merasa sedih atau kecewa karena masalah dunia, seperti kehilangan harta atau kedudukan, Rasulullah mengingatkan bahwa hal ini menunjukkan ketidakpuasan terhadap ketetapan Allah. Sebagai gantinya, seorang Muslim harus belajar menerima apa yang Allah tentukan untuknya, baik dalam keadaan senang maupun sedih.

3. Merendahkan Diri pada Orang Kaya: Rasulullah menegaskan bahwa merendahkan diri pada orang kaya karena kagum pada kekayaannya merupakan perilaku yang sangat tidak disukai dalam Islam. Kekayaan materi tidak boleh menjadi tolok ukur dalam menghargai seseorang. Sebaliknya, nilai sejati seseorang terletak pada ketakwaannya kepada Allah. Dengan mengagumi seseorang karena kekayaannya, seseorang bisa terjerumus ke dalam kesombongan dan menciptakan ketidakadilan sosial.

Dengan demikian, hadis ini mengajarkan umat Islam untuk bersyukur atas segala ujian dan nikmat yang diberikan oleh Allah, menerima takdir-Nya dengan lapang dada dan tidak memandang rendah atau tergila-gila pada harta dan kedudukan duniawi.

Fokuslah cari muka di hadapan Allah, maka, kau akan mendapatkan keajaiban dan pertolongan dari Allah. Sebaliknya, kalau fokus cari muka di hadapan manusia, maka, siap-siaplah mengalami kekecewaan.

Pesan yang penulis bagikan adalah tentang pentingnya fokus pada pencarian keridaan Allah daripada mencari pujian atau pengakuan dari manusia. Ini sesuai dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya ikhlas (niat yang tulus) dalam setiap tindakan dan usaha kita.

Dalam Islam, tindakan dan usaha yang dilakukan dengan ikhlas, yaitu semata-mata untuk mendapatkan keridaan Allah, akan mendapatkan balasan dan pertolongan dari-Nya. Sebaliknya, jika seseorang hanya berusaha untuk mendapatkan pengakuan atau pujian dari manusia, mereka mungkin akan mengalami kekecewaan, karena manusia memiliki keterbatasan dan mungkin tidak selalu menghargai atau memperhatikan usaha kita.

Oleh karena itu, pesan tersebut mengingatkan kita untuk memprioritaskan hubungan dan keridaan Allah dalam setiap langkah dan usaha kita dalam hidup. Dengan memperhatikan pencarian keridaan Allah, kita akan menemukan keajaiban dan pertolongan-Nya dalam segala hal yang kita lakukan.

Berhijrah ke jalan Allah secara total. Hijrah total bukan karena trend, bukan karena friend, dan bukan karena keren. Namun, semata-mata hanya mencari Rida Allah SWT.

Pesan yang penulis bagikan menekankan pentingnya hijrah (migrasi atau perubahan) secara total ke jalan Allah SWT dengan niat yang tulus dan ikhlas. Ini menggambarkan pentingnya melakukan perubahan hidup dengan tujuan utama mencari keridaan Allah, bukan untuk mengikuti trend, untuk mendapatkan persetujuan dari teman, atau untuk mencari popularitas.

Hijrah secara total dalam konteks ini mencakup perubahan dalam perilaku, pemikiran, dan prioritas hidup yang sesuai dengan ajaran Islam. Ini bisa mencakup meninggalkan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, meningkatkan amal ibadah, berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama, serta mengikuti ajaran agama dengan tekun dan konsisten.

Dengan melakukan hijrah secara total untuk mencari keridaan Allah, seseorang menunjukkan keikhlasan dan kesetiaan kepada agama, serta keyakinan yang kuat bahwa rida Allah-lah yang seharusnya menjadi tujuan utama dalam kehidupan manusia. Ini adalah panggilan untuk menjalani hidup dengan kesadaran yang mendalam akan tanggung jawab kepada Sang Pencipta dan berusaha untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Jika ingin merasa hatimu tenang dan tenteram bersama Allah, janganlah engkau turuti hawa nafsumu.

Pesan yang penulis sampaikan mencerminkan ajaran Islam tentang pentingnya mengendalikan hawa nafsu untuk mencapai ketenangan dan kedamaian batin bersama Allah SWT. Dalam Islam, hawa nafsu seringkali dianggap sebagai sumber godaan dan gangguan yang dapat menghalangi seseorang dari mencapai kedekatan dengan Allah dan kedamaian dalam hati.

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:

وَلَوۡ شِئۡنَا لَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بَِٔايَٰتِنَاۚ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ 

"Dan tidaklah dirahasiakan kepada kamu tentang perumpamaan (nafsu) yang kami sebutkan kepadamu sebelum ini, yaitu nafsu itu, adalah seperti anjing yang terus menerus mengembus-ngembuskan lidahnya jika kamu menghalaunya, dan jika kamu membiarkannya dia terus mengembus-ngembuskan lidahnya. Demikianlah perumpamaan bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir." (QS. Al-A'raf: 176).

Ayat ini menegaskan bahwa hawa nafsu dapat menjadi musuh yang perlu diwaspadai oleh manusia. Dengan mengendalikan hawa nafsu dan tidak membiarkannya menguasai diri, seseorang dapat mencapai ketenangan batin dan kedamaian hati. Ini dilakukan dengan mengikuti ajaran Allah dan menjauhi segala bentuk perbuatan yang dapat memperbudak manusia kepada hawa nafsu.

Jadi, pesan tersebut mengingatkan kita untuk selalu berusaha mengendalikan hawa nafsu demi mencapai ketenangan dan kedamaian batin, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan tulus dan ikhlas.

Salam Dahsyat dan Luar Biasa!

Dr. Nasrul Syarif M.Si.  
Penulis Buku Gizi Spiritual. Ramadhan Maghfirah 1445 H
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar