Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Harga Telur Kian Babak Belur, Butuh Dukungan Sistem


Topswara.com -- Telur selama ini menjadi andalan masyarakat sebagai lauk yang moderat kelasnya, sehingga masyarakat tidak dapat hidup tanpa telur. 

Pada masyarakat kelas menengah keatas, telur menjadi bahan pokok pembuatan kue termasuk variasi lauk sumber protein hewani. Begitu pula dengan olahragawan, tergantung dengan bahan makanan satu ini.

Adapun pada masyarakat kelas menengah kebawah, telur merupakan makanan selingan bahkan mewah diatas tahu tempe yang menjadi lauk keseharian. Sebagai sumber protein hewani, harga telur tentunya lebih murah sumber hewani lain seperti ayam apalagi daging. Hal ini yang menjadikan telur jadi primadona kebutuhan lauk masyarakat yang tidak bisa ditawar lagi.

Namun, kabar buruk harus dihadapi emak-emak seluruh Nusantara tatkala saat ini harga telur babak belur sepanjang sejarah yakni meroket menembus setidaknya 30 ribu/kg, bahkan di beberapa kota lebih dari itu. Di luar Jawa bisa tembus 40 ribu/kg.
Menurut Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) sebagaimana yang dilansir oleh Okezone.com (23/05/2023). 

Mengungkapkan, harga telur ayam terus mengalami peningkatan dalam dua minggu terakhir disebabkan oleh menurunnya pasokan dari telur ayam. 

Penurunan pasokan tersebut menurut ketua IKAPPI Abdullah Mansur disebabkan oleh dua hal yaitu meningkatnya harga pakan maupun tingginya permintaan telur dari instansi pemerintah untuk program bansos. Pemerintah langsung mengambil telur dari peternak sehingga mengganggu stabilitas harga di pasaran.

Bahkan lebih miris lagi, menurut metrotvnews.com (22/05/2023), pakan ayam ini sulit didapat. Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Pangan Polri Brigjen Whisnu Hermawan mengatakan, komposisi bahan baku pakan ternak adalah jagung, konsetrat, dan dedak bekatul. produksi jagung dalam negeri belum mencukupi sebagian besar masih tergantung dengan impor.

Lagi-lagi, ketahanan pangan menjadi perkara akar dalam penyebab naiknya suatu komoditas vital sumber pangan masyarakat. Masyarakat harus rela menjadi korban dari belum layaknya ketahanan pangan negeri ini pada komoditas yang bernama jagung. 

Padahal, negeri ini negeri agraris. Masih banyak petani yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Seharusnya tak sulit untuk mewujudkan kemandirian pangan apapun jenisnya baik itu padi, jagung, cabe, bawang, yang kesemuanya dibutuhkan sehari-hari untuk makanan rakyat.

Tetapi pada faktanya impor negeri ini makin lama makin menunjukkan angka kenaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor jagung hingga kedelai masih naik pesat hingga Januari 2023. 

Impor jagung pada Januari 2023 sebesar 97,48 juta kilogram, naik 7.792,81 persen dibandingkan Januari 2022 sebanyak 1,23 juta kilogram, atau naik 26,16 persen dibandingkan Desember 2022 yang sebesar 76,65 juta kilogram. Impor jagung berasal dari negara Brasil, Argentina, Amerika Serikat dan Thailand. (www.cnbcindonesia.com, 16/02/2023).

Banyaknya ketergantungan impor bahan pangan dari banyak negara menggambarkan negara ini hampir tidak mempunyai daya untuk mencukupi kebutuhan pangan dari dalam negeri sendiri. 

Padahal dengan fakta bahwa lahan pertanian sudah ada, para petani yang siap mengerjakan lahan juga tidak kalah cukup. Tinggal satu hal saja yang kurang dalam hal ini yaitu support baik dari sistem maupun pemerintah.

Tanpa dukungan yang memadai dari pihak regulator yang menjalankan pengurusan rakyat, apalah daya. Petani tidak akan mampu mengerjakan pekerjaannya sebagai petani bila menghadapi kondisi bibit dan pupuk mahal, begitu panen harga turun sehingga tidak mendapatkan hasil yang memuaskan untuk bertahan hidup sampai panen mendatang dan membiayai pendidikan anak-anak.

Bahkan tidak jarang masyarakat yang akhirnya memilih meninggalkan dunia pertanian dan memilih menjadi pekerja industri karena hasilnya yang lebih pasti. Termasuk juga generasi muda, sangat sedikit sekali yang bercita-cita menjadi petani.

Seharusnya, kemandirian pangan bisa diupayakan pemerintah semaksimal mungkin sebagai upaya penyejahteraan masyarakatnya sendiri. Seharusnya pemerintah bertanya kenapa harus impor? Apabila itu tekanan dari negara lain maka pemerintah harus berani menolaknya. Apabila itu dipilih karena menguntungkan sejumlah pejabat terkait maka pemerintah harus bertindak tegas.

Kesejahteraan masyarakat adalah tanggung jawab yang tidak dapat disepelekan sedikitpun. Bagaimana masyarakat bisa mendapatkan bahan pangan termasuk telur dengan mudah dan murah kembalinya pada kemauan pemerintah untuk mengupayakan solusi pada masalah-masalah yang terjadi.
Dalam Islam, kepemimpinan akan dimintai pertanggung-jawaban di akherat kelak sebagaimana bunyi hadis:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اللَّهُمَّ، مَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَشَقَّ عليهم، فَاشْقُقْ عليه، وَمَن وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتي شيئًا فَرَفَقَ بهِمْ، فَارْفُقْ بهِ

Artinya: Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan dari umatku, lalu ia membuat susah umatku, maka susahkanlah dia. Dan siapa saja yang mengurusi urusan dari umatku, lalu ia sayang pada umatku, maka sayangilah ia.” (HR. Muslim).


Oleh: Ratna Mufidah, SE.
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar