Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Biaya Pendidikan Meningkat, Beban Orang Tua Makin Berat


Topswara.com -- Berbicara masalah pendidikan memang tidak pernah berujung. Hingga hari ini pun masalah pendidikan di Indonesia tidak menjumpai titik terangnya, khususnya masalah pendidikan di perguruan tinggi. Masih menjadi sorotan karena berbagai masalah yang ada, mulai dari biaya pendidikan hingga kualitas pendidikan.

Setiap orang tua menginginkan anaknya untuk bisa menempuh pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Tidak sedikit para orang tua yang rela bekerja siang hingga malam hanya untuk menyekolahkan anaknya. Mencari uang guna memenuhi biaya sekolah sang anak. Lelah seakan tidak menjadi penghalang. Begitulah perjuangan yang dilakukan para orang tua demi anaknya setiap hari.

Namun, walaupun para orang tua sudah bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan anaknya, terkadang para orang tua juga tidak mampu untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut. Sebab, ada banyak kebutuhan yang harus dipenuhi setiap harinya. Ditambah lagi saat ini kita sedang hidup dalam naungan sistem kapitalisme. 

Biaya hidup di dalam sistem kapitalisme memanglah tinggi dan kian mencekik rakyat hingga beban kian berat. Tidak bisa dipungkiri akibat tingginya biaya hidup mengakibatkan untuk biaya pendidikan anak sering tidak terpenuhi, karena harus lebih mendahulukan biaya kebutuhan sehari-hari.

Apalagi ketika penghasilan para orang tua yang terbilang pas-pasan dan tidak bertambah. Akibatnya, untuk memenuhi biaya sekolah anak, banyak orang tua yang kesulitan dan menjadikannya beban. Hingga jalan pintas yang diambil biasanya adalah tidak melanjutkan pendidikan anaknya ke perguruan tinggi.

Faktanya, kebanyakan anak yang bersekolah, hanya bisa menempuh pendidikan sampai jenjang SMA saja. Hal ini terjadi karena biaya sekolah SMA terbilang masih bisa dijangkau meskipun juga terkadang banyak masyarakat yang kesulitan menyekolahkan anaknya di bangku SMA. 

Apalagi jika bersekolah di sekolah negeri, tetap saja ada biaya tambahan meskipun banyaknya tidak seperti biaya di perguruan tinggi. Persoalannya adalah, jika anak-anak telah lulus dari sekolah SMA banyak anak yang menginginkan untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, tetapi ada hal yang menjadi penghalang keinginannya tersebut, yaitu masalah biaya.

Biaya untuk masuk perguruan tinggi memang tidak murah bahkan terbilang menyusahkan masyarakat karena terlalu mahalnya biaya tersebut. Apalagi jika masuk perguruan tinggi yang berkelas, biasanya hanya dimasuki oleh anak-anak orang kaya saja, ditambah jika yang dipilih adalah fakultas kedokteran biaya yang dikeluarkan tentu tidak sedikit. Sehingga, anak-anak yang ekonominya menengah akan tersisih dengan sendirinya.

Jika diperhatikan, kesadaran para anak akan pentingnya pendidikan itu cukup besar. Namun, karena faktor biaya yang tidak sedikit yang itu harus dikeluarkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi membuat anak-anak yang telah lulus dari SMA terkadang tidak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi karena mereka juga terkadang tidak mampu dan tidak ingin menjadi beban bagi keluarga.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf Macan Effendi, mengakui jika memang biaya kuliah di tanah air saat ini masih terbilang mahal. Dede Yusuf mengungkapkan, banyak orang tua tak melanjutkan studi kuliah sang anak lantaran benturan biaya. (kedaipena.com, 30/07/2022).

Padahal, pendidikan itu adalah hal yang sangat penting apalagi mampu membawa perubahan bagi negeri ini. Jika para generasinya tidak cerdas maka, negeri ini akan mengalami ketertinggalan. Mulai dari tertinggal dalam ilmu pengetahuan, teknologi, SDM yang lemah dan sebagainya.

Tentu ini adalah masalah yang serius jika hal ini terus terjadi maka, negeri ini akan kehilangan SDM yang berkualitas. Sebab, majunya suatu negeri juga dilihat dari seberapa minat para generasi negerinya untuk sekolah dan belajar. Perguruan tinggi juga sebagai wadah yang bisa menghasilkan para ilmuan hebat. Jika tidak banyak anak yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maka, para ilmuan juga akan berkurang otomatis negeri ini akan kehilangan generasi yang berilmu.

Namun tampaknya, keinginan masyarakat dengan keinginan para pejabat negeri ini sering tidak selaras. Setiap kebijakan yang dikeluarkan selalu saja menyusahkan masyarakatnya. Padahal, tugas mereka untuk melayani masyarakat, bukan membuat susah masyarakatnya. Dengan tingginya biaya kuliah, ini jelas sangat menyusahkan masyarakat.

Penyebab hal ini terjadi karena negeri ini masih mengadopsi sistem kapitalisme. Masyarakat tidak akan pernah sejahtera dan mendapatkan semua yang menjadi haknya. Padahal, banyak sekali hak masyarakat yang seharusnya dipenuhi, tetapi hal itu tidak akan mungkin terjadi jika kapitalisme masih diadopsi.

Salah satu hak masyarakat adalah hak mendapatkan pendidikan. Seharusnya hal ini menjadi perhatian khusus sebab hal ini menjadi tanggung jawab negara yang tidak boleh untuk diabaikan. Sayangnya, kesadaran akan hal ini tidak ada karena faktanya di negeri ini untuk masalah pendidikan tidak kunjung usai. Alih-alih ingin menciptakan pendidikan berkualitas, persoalan biaya saja mencekik rakyatnya sendiri. 

Sungguh malang para generasi yang hidup di dalam naungan kapitalisme. Ruang geraknya diatur oleh para kapital bahkan sampai ke pendidikan. Mereka menciptakan pendidikan seperti ajang berbisnis agar bisa mengambil keuntungan dari masyarakat. Padahal, hidup rakyat hari ini sangat memprihatinkan, tetapi mereka enggan untuk peduli.

Inilah gambaran lemahnya pendidikan di negeri ini. Terlihat jelas bahwa masyarakat itu hidupnya tidak disejahterakan, tetapi malah disusahkan. Sistem hari ini jelas tidak mampu untuk mengurusi urusan seluruh masyarakat. Para pejabat negeri ini juga terlihat berlepas tangan menganggap rakyat itu bukanlah amanah yang mesti dijaga. Inilah apabila hidup kita terus menerus diatur oleh sistem rusak. Akibatnya, merusak banyak hal termasuklah pendidikan.

Berbeda dengan sistem Islam yang senantiasa menjaga rakyat dan mengurusinya. Karena setiap pemimpin di dalam Islam, mereka bekerja karena dorongan ketakwaan kepada Allah SWT. ditambah lagi, sistem Islam sangat mampu menjamin kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Hidup rakyat akan benar-benar terjamin dan terpenuhi hak-haknya.

Begitulah perbedaannya aturan yang berasal dari manusia sangat berbeda jauh dengan Sang Pencipta. Seharusnya, manusia menyadari hal ini betapa  hidup di dalam aturan Islam itulah yang paling mulia dan seluruh manusia akan dimuliakan. 

“Ya Allah, barang siapa yang mengurusi urusan umatku kemudian dia merepotkan umatku maka susahkanlah dia.” (HR Muslim).

Wallahualam bissawab.


Oleh: Astri Ahya Ningrum S.Pd
Praktisi Pendidikan
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar