Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Inilah Musibah Besar Tergesa-gesa dalam Menuntut Ilmu


Topswara.com -- Ulama Aswaja Gus Sholahuddin Munshif mengungkapkan musibah besar dari tergesa-gesa menuntut ilmu.

"Watulizamanin itu sudah dilupakan. Yo opo carane limang wulan sepuluh wulan. Opo maneh saiki lagek rame-ramene, kapan wes apal Qur'an umur pinten mpun masuk TV wuih rame. Akhire kepingin iku kabeh..kepingin iku kabeh. Ngantos akhire nggih khatam sakestu. Tapi kadang la yafham, mboten ngerti nopo-nopo. Hadas, shalat, wudhu kadang sampai sak monten. Lha niki musibah wa ayyu musibah akbaru min hadza, (Watulizamanin itu sudah dilupakan, bagaimana caranya menempuh lima bulan, sepuluh bulan. Apalagi sakarang sedang ramai-ramainya, jika ada yang sudah hafal Al-Qur'an, umur berapapun sudah masuk TV, sangat menarik. Akhirnya semua orang ingin seperti itu. Sampai akhirnya ya benar khatam. Tapi terkadang tidak paham, kadang tidak tahu apa-apa. Tidak tahu tentang hadas, shalat, wudhu kadang sampai segitu. Lha ini musibah wa ayyu musibah akbaru min hadza)," paparnya di Facebook Khantong Umur, Rabu (29/06/2022).

Ulama aswaja ini menegaskan bahwa mengaji tidak bisa dibuat perlombaan atau tergesa-gesa. Baik ngaji kitab maupun Al-Qur'an.

"Wong Al-Qur'an nggih kangge selawase ora kangge nomer-nomeran. Yo ora kangge lomba. Wong Al-Qur'an kok kangge lomba lak koyo kacang. La mulane ngaji niku tetep mboten saget di kesusoni, (Al-Qur'an itu dipakai untuk selamanya bukan untuk nomor-nomoran, bukan juga untuk perlombaan. Al-Qur'an kok dipakai untuk perlombaan seperti kacang saja. Makanya ngaji itu tidak bisa diburu-buru," imbuhnya.

Dia menyampaikan bahwa jikalau manusia dikasih usia seribu tahun pun, kemudian dipergunakan untuk menuntut ilmu dari seluruh usianya pun manusia tak sanggup menggapai seluruh ilmu itu. Jadi, sangat aneh jikalau ada program satu tahun bisa baca kitab. Ia mempertanyakan kitab yang seperti apa?

"Ngoten nggih nggolek, sing program jare enem wulan iso moco kitab. Tapi mboten mikir kenyataan setelah itu cocok mboten? Dan sakestu enem wulan iso moco Fatul Wahab? Iso moco Iqna'? Iso moco bukhori? Kenyataan nggih mboten! Paling sing di gawe contho-contho tok niku wau. Niku mawon bar nggih lali. (Itu ada yang mencari program yang katanya enam bulan bisa baca kitab. Tetapi tidak berpikir setelah itu kenyataannya cocok atau tidak? Dan apakah benar enam bulan bisa baca kitab Fathul Wahab? Bisa baca Iqna'? Bisa baca Bukhari? Kenyataannya ya tidak! Mungkin yang dihafal ya yang dipakai contoh-contoh itu saja.
Itu saja nanti juga lupa setelahnya)," ujarnya.

Padahal, menurutnya para ulama tidak seperti itu dalam menuntut ilmu.

"Imam Suyuthi, Imam Syakhrowi ngajine puluhan tahun, trus mikir wonge iku cerdas-cerdas lho nggih! Imam Suyuthi gak cerdas yo gak dadi ulama. Niku mawon taksih beberapa tahun. Mboten mikir ngoten? Dadi modele mie yo langsung, mie instan sedaya sak makanane instan. Suwe-suwe umure yo instan. (Imam Suyuthi, Imam Syakhrowi mengaji berpuluh-puluh tahun. Akhirnya kita pun bisa berpikir bahwa pastinya mereka adalah orang-orang yang cerdas ya! Imam Suyuthi kalau enggak cerdas pasti tidak menjadi ulama. Itu saja masih menempuh berapa tahun. Apakah kita tidak berpikir begitu? Jadi ibarat mie ya mie instan, semua makanannya pun instan. Lambat laun umurnya pun instan)," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa ada kewajiban bagi setiap kaum Muslim untuk menuntut ilmu, sehingga jangan mencukupkan kepada hafalan Al-Qur'an semata. Bahkan, seringkali Gus Sholah menjumpai murid barunya yang meminta izin hanya ikut program tahfidz semata, dan tidak ikut sekolah (mengkaji kitab), namun ia tidak mengizinkan. Seraya mengutip hadis Nabi SAW Thalabul ilmi faridhatan ala kulli muslimin.

"Nggih mboten pareng kaleh kulo. Lha nek ra sekolah wudhune yok nopo sing nguruki sopo. Maa sya Allah nek mboten ngaji trus yok opo? Nggih ngaji nggih ngapalno mboten nopo nopo, sithik sithik penting klakon. Mesthine ngoten, nggih Al-Qur'an naam tapi ngaji carane sholat kan nggih wajib. (Ya enggak boleh menurut saya. Karena kalau nggak sekolah, wudhunya nanti seperti apa, yang mengajar siapa? Masya Allah kalau enggak ngaji nanti bagaimana? Ya ngaji ya hafalan, sedikit-sedikit enggak apa-apa yang penting terlaksana. Mestinya begitu, ya Al-Qur'an itu benar tapi ngaji caranya shalat itu juga wajib," jelasnya.

Ia berpesan bahwa pentingnya menuntut ilmu itu adalah menyertakan keikhlasan.

"Kabeh monggo sareng-sareng belajar ikhlas. Kiai sepuh sepuh kathah sing apal Qur'an tapi jarang wong ngerti. Murajaah dewe, yo ora kepengen dingerteni ngoten lo maksud kulo. (Semuanya mari bersama-sama belajar ikhlas. Banyak Kiai yang sudah tua namun hafal Al -Qur'an, dan itu jarang orang yang mengetahuinya. Mereka murajaah sendiri dan tidak punya keinginan untuk diperlihatkan kepada orang. Begitu maksud saya)," pungkasnya. [] Heni & Rina
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar