Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Benarkah Terbang Membawa Misi Perdamaian?


Topswara.com -- Sungguh miris kehidupan saat ini yang lebih mementingkan materi walaupun taruhannya adalah nyawa. Begitulah adanya sistem kapitalis-demokrasi yang kini keberadaannya diambang kehancuran. Potret tersebut menjadi bukti nyata rusaknya sistem yang telah diagungkan selama ini.

Baru-baru ini Kemlu merilis sebanyak 149 buruh meninggal dan beberapa lainnya mengalami penganiayaan di rumah tahanan imigrasi Sabah, Malaysia. Kemlu mengatakan mendapatkan laporan dari Koalisi Buruh Migran Berdaulat (KBMB) soal Tenaga Kerja Indonesia (TKI). (hidayatullah.com, 29/06/2022).

Fenomena meninggalnya buruh imigran di Sabah tercatat sejak 2021 sebanyak 101 warga negara Indonesia (WNI). Januari hingga Juni 2022 juga tercatat sebanyak 48 orang.

Banyaknya kasus yang terjadi pada buruh imigran dari Indonesia di Sabah hingga meninggalnya para imigran tersebut mendapatkan perhatian khusus dan pandangan yang serius dari Kementerian Luar Negeri. Perwakilan RI di Sabah, yaitu KJRI Kota Kinabalu dan KRI Tawau akan bertemu Pengarah Jabatan Imigresen Negeri Sabah. Sebagai upaya Pemerintah Indonesia dalam melindungi WNI/PMI di wilayah Sabah.

Atas upaya yang dilakukan, belum membuahkan hasil yang berarti, berupa tindakan tegas dan pembelaan terhadap warga negara Indonesia tersebut. Hanya membantu dalam proses pemulangan warga negara Indonesia yang masih tertahan di Depot Imigresen.

Dengan adanya peristiwa yang terjadi pada warga negara Indonesia di negeri tetangga, membuat nasib tenaga kerja Indonesia kian miris. Di saat masalah nyawa buruh imigran yang menjadi taruhan di negeri tetangga, di saat yang bersamaan pula Presiden Jokowi terbang ke Moskow setelah mendatangi pertemuan di Jerman. Sungguh sangat disayangkan hal tersebut bisa terjadi di negeri yang kita cintai ini.

Hingga saat ini pemerintahan Indonesia tidak mampu mengatasi kasus yang menimpa buruh migran dari Indonesia. Namun demikian, pemerintah Indonesia tetap saja menyalurkan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri. Hal itu dilakukan karena negara akan mendapatkan keuntungan materi dalam jumlah yang besar dengan mengirimkan para buruh migran tersebut.

Hal ini sungguh disayangkan, tetapi memang begitulah adanya ketika suatu negara menganut sistem kapitalis. Keuangan lebih diutamakan dan keuntungan di atas segala-galanya. Negeri ini lebih mementingkan keuntungan dalam jumlah yang besar dibandingkan dengan nyawa yang ditaruhkan oleh para migran yang dikirim keluar negeri.

Hal ini terjadi bukan tanpa alasan, karena sulitnya mencari pekerjaan di negeri sendiri, dan terus bertambah kebutuhan ekonomi menjadi faktor utama penyebab banyaknya warga negara Indonesia yang ingin menjadi buruh migran dan beradu nasib hingga bertaruh nyawa di negeri orang.

Bukan itu saja, di saat yang bersamaan pula Presiden Jokowi terbang ke Rusia dan Ukraina untuk melaksanakan "misi perdamaian" setelah menghadiri pertemuan G7 di Jerman. Presiden Jokowi akan mengikuti langkah dari mereka yang sudah berusaha menghentikan perang Vladimir Putin. Namun, langkah Presiden Jokowi terlihat santai dengan banyak basa-basi. (intisari.grid.id.com, 30/06/2022).

Salah satu tujuan Presiden Jokowi ke Moskow ingin menghentikan blokade Rusia atas ekspor gandum yang menyebabkan terganggunya masa depan mie instan asal Indonesia yang telah mendunia.

Begitulah watak sistem pemerintahan kapitalis-demokrasi, segala sesuatu dilakukan atas dasar kemanfaatan dan keuntungan. Terbukti dengan terbangnya Presiden Jokowi ke Moskow mendatangi kediaman Presiden Putin yang dapat diduga tidak hanya membawa misi mendamaikan, tetapi juga membawa misi agar kerja sama dibidang perekonomian kembali berjalan dengan normal seperti sedia kala.

Dunia ini pastinya membutuhkan suatu aturan yang mampu melindungi seluruh umat manusia yang ada dunia. Suatu aturan yang terbebas dari nafsu keserakahan kepentingan ekonomi. Aturan yang pasti dan jelas konsep pelaksaannya. Sistem ini terwujud dalam institusi negara khilafah islamiyah, sistem ini adalah sistem Islam. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ  ۛ  كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِۢغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَا دٍ فِى الْاَ رْضِ فَكَاَ نَّمَا قَتَلَ النَّا سَ جَمِيْعًا ۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَ نَّمَاۤ اَحْيَا النَّا سَ جَمِيْعًا ۗ وَلَـقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِا لْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَ رْضِ لَمُسْرِفُوْنَ 

"Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi." (QS. Al-Ma'idah [5]: 32).

Islam sangat menghargai nyawa manusia, dan Islam sangat memperhatikan penjagaan nyawa manusia. Khilafah juga wajib memenuhi kebutuhan umatnya dalam bentuk sandang, pangan, papan termasuk pendidikan, dan kesehatan dalam rangka menjaga nyawa umatnya. Sebab, semua kebutuhan tersebut sangat penting, dan ketika tidak terpenuhi akan mengancam nyawa umatnya. Atas pengaturan yang telah ada Khalifahlah yang bertanggung jawab atas terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan umat tersebut.

Khilafah tidak menjadikan pengiriman buruh migran ke luar negeri sebagai sumber pendapatan negara yang besar seperti dalam sistem kapitalis-demokrasi. Khilafah akan menciptakan kesejahteraan umatnya di dalam negerinya sendiri, sehingga umatnya tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan sebagai sumber penghidupan dengan beradu nasib dan bertaruh nyawa ke negeri orang.

Sumber pendapatan dalam negara khilafah berasal dari baitulmal, pos kepemilikan umum, dan pos kepemilikan negara. Islam mewajibkan setiap kepala keluarganya untuk bekerja, negara juga wajib memfasilitasi agar kepala keluarga dapat bekerja dengan pekerjaan yang layak, kewajiban kerabat yang mampu untuk menafkahi keluarganya yang tidak mampu, ketika tidak ada keluarga dan ahli waris yang mampu menafkahinya, maka negaralah yang mempunya kewajiban untuk menafkahinya. Seperti itu strategi untuk memenuhi kebutuhan pokok setiap individu dalam negara Islam.

Negara khilafah islamiyah juga akan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya karena individu ataupun swasta tidak boleh menguasai harta milik umat, yang ada, negara sendirilah yang akan mengelolanya dan membuka lapangan pekerjaan untuk umat. Persoalan mengenai pendidikan dan kesehatan akan diberikan secara cuma-cuma oleh negara khilafah islamiyah kepada seluruh warganya.

Sungguh indah hidup dalam naungan negara khilafah islamiyah yang sangat berbanding terbalik dengan keadaan kita saat ini yang begitu menyengsarakan. Maka, marilah berjuang bersama-sama menegakkan Islam secara kafah dalam institusi sebuah negara yaitu khilafah islamiyah.

Wallahualam bissawab.


Oleh: Sindi Laras Wari
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar