Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Sumber Keberkahan adalah Al-Qur'an


Topswara.com -- CEO Educoach dan Wakil Ketua Komnas Pendidikan Jawa Timur DR. Nasrul Syarif M.Si mengatakan, Al-Qur'an merupakan sumber keberkahan hidup.

"Al-Qur'an adalah sumber keberkahan. Oleh karena itu, hanya dengan mengikuti Al-Qur'an keberkahan hidup itu bisa dirasakan oleh setiap Muslim," tutur Faqih sapaan akrabnya kepada Topswara.com, Kamis (10/2/2022).

Kemudian ia membacakan firman Allah SWT di dalam Al-Qur'an surah Al-An’am ayat 155:

وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ (١٥٥)

“Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” 

"Imam al-Qurtubi  menjelaskan bahwa Al- Qur'an disifati dengan mubarak (yang diberkati). Karena mengandung banyak kebaikan di dalamnya. Adapun frasa  fattabi’uuhu maknanya adalah I’maluu bimaafihi (amalkanlah semua hal yang terkandung di dalam Al-Qur'an itu). Itulah bukti bahwa kita benar-benar berharap akan rahmat Allah SWT," terangnya.

Menurut Faqih, ayat tersebut kembali menerangkan, sifat-sifat dan kedudukan Al-Qur'an yang mencakup segala macam petunjuk dan hukum syariat yang dibutuhkan oleh umat manusia seluruhnya dan jin, untuk mencapai kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi. 

"Kitab Taurat yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Musa as penuh berisi ajaran-ajaran syariat dan petunjuk-petunjuk yang hanya dibutuhkan oleh Bani Israil untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat," lanjutnya.

Ia membandingkan, sedangkan Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, berisi lebih banyak petunjuk dan lebih luas jangkauannya dari Kitab Taurat. 

"Oleh karena itu, ikutilah petunjuk-Nya dan laksanakan semua perintah dan larangan-Nya yang ada di dalam Al-Qur'an, agar kamu diberi rahmat, dan kamu diberi hidayah di dunia ini," pesannya.

Faqih menjelaskan bahwa Allah SWT telah mengaitkan secara langsung keberkahan hidup penduduk suatu negeri dengan keimanan dan ketakwaan mereka kepada-Nya.

Lalu ia membaca Al-Qur'an surah Al A'raf ayat 96;

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ   (٩٦)

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” 

"Dalam ayat ini diterangkan bahwa seandainya penduduk kota Mekah dan negeri-negeri yang berada di sekitarnya serta umat manusia seluruhnya, beriman kepada agama yang dibawa oleh nabi dan rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw dan seandainya mereka bertakwa kepada Allah sehingga mereka menjauhkan diri dari segala yang dilarangnya, seperti kemusyrikan dan berbuat kerusakan di bumi, niscaya Allah SWT akan melimpahkan kepada mereka kebaikan yang banyak, baik dari langit maupun dari bumi," jelasnya.

Faqih memberi contoh, nikmat yang datang dari langit, misalnya hujan yang menyirami dan menyuburkan bumi, sehingga tumbuhlah tanam-tanaman dan berkembang-biaklah hewan ternak yang kesemuanya sangat diperlukan oleh manusia. 

"Di samping itu, mereka akan memperoleh ilmu pengetahuan yang banyak, serta kemampuan untuk memahami sunnatullah yang berlaku di alam ini, sehingga mereka mampu menghubungkan antara sebab dan akibat," ucapnya.

Ia menyimpulkan, dengan demikian, mereka akan dapat membina kehidupan yang baik, serta menghindarkan malapetaka yang biasa menimpa umat yang ingkar kepada Alllah SWT dan tidak mensyukuri nikmat dan karunia-Nya.

"Apabila penduduk Mekah dan sekitarnya tidak beriman, mendustakan Rasul dan menolak agama yang dibawanya, kemusyrikan dan kemaksiatan yang mereka lakukan, maka Allah menimpakan siksa kepada mereka, walaupun siksa itu tidak sama dengan siksa yang telah ditimpakan kepada umat yang dahulu yang bersifat memusnahkan," tuturnya.

Fagih menegaskan, kepastian azab tersebut adalah sesuai dengan sunnatullah yang telah ditetapkannya dan tak dapat diubah oleh siapa pun juga, selain Allah SWT.

"Maka pada ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa jika mereka taat kepada-Nya, pasti Allah akan membukakan  bagi mereka segala pintu kebaikan. Keberkahan adalah seluruh kebaikan yang sifatnya ilahiah, baik yang terdapat dalam suatu benda ataupun amal perbuatan," tegasnya.

Ia mengungkapkan, keberkahan mungkin tidak bisa terlihat langsung secara inderawi, namun bisa dirasakan. Sesuatu bisa dirasakan mempunyai nilai tambah, padahal lahiriahnya tidak, bahkan mungkin berkurang inilah keberkahan.

"Kalau terkait dengan rezeki sedikitnya harta, namun mencukupi semuanya, kalau banyaknya harta, maka bermanfaat bagi banyak orang. Ada orang mempunyai sedikit ilmu, namun ilmunya bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat. Ini termasuk tanda-tanda bahwa ilmu tersebut diberkati," pungkasnya.[] Nabila Zidane
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar