Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Dosen Filsafat: Membenturkan Iman dan Ilmu Adalah Sesat Pikir


Topswara.com -- Dosen Filsafat, Dr. Ahmad Sastra, M.M., mengungkapkan, membenturkan antara level iman dan ilmu adalah sesat pikir, dengan narasi jika melakukan prokes Covid-19 itu seolah tidak takut Allah, tetapi takutnya kepada virus.

"Membenturkan antara level iman dan ilmu adalah sesat pikir dengan narasi jika melakukan prokes Covid-19 seolah tidak takut kepada Allah, tetapi takutnya malah kepada virus," tuturnya kepada Topswara.com, Ahad (04/07/2021).

Ia mengungkapkan, Rasulullah SAW telah bersabda, "Larilah dari penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari singa." (HR Bukhari)

Lebih lanjut ia juga menyampaikan, dalam riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka janganlah tinggalkan tempat itu."

"Ketika terjadi musibah seperti wabah penyakit yang menular, maka umat Islam tidak boleh bersikap fatalisme, sekadar menyandarkan kepada keimanan, tanpa melakukan ikhtiar saintifik. Karena itu, prokes yang dianjurkan oleh para ahli adalah sebuah ilmu dan kebenaran," ujarnya. 

Ia mengutip perkataan Ahmad Rusdan Utomo, Ph.D, Konsultan Biologi Molekuler Independen, yang mengulas berbagai fakta soal virus Corona.

Dikatakan bahwa dilihat dari sisi penularan virus Corona relatif lebih cepat daripada SARS pertama, dengan total korban ada delapan ribuan dan yang meninggal tidak sampai seribu. Lalu, selesai wabahnya dalam delapan bulan. Sedangkan Covid-19 atau SARS-CoV-2, total terinfeksi sampai sekarang dua puluh jutaan dan yang meninggal ratusan ribu. Dari hasil data analisa genetik, virus corona berbeda sekitar dua puluh hingga tua puluh persen dari SARS pertama. Virus corona ini sepuluh kali lipat lebih kuat dalam mengikat reseptor sel ACE2 manusia.

Ustaz Sastra, sapaan akrabnya, menjelaskan antara level keimanan dan keilmuan yang tidak boleh dibenturkan satu dengan yang lainnya. Iman itu level keyakinan seorang Muslim atas kekuasaan dan kehendak Allah, sementara ilmu adalah kewajiban Muslim dalam menjalani kehidupan di dunia, termasuk di dalamnya ilmu tentang kesehatan.

"Membenturkan keduanya, selain akan memperkeruh suasana, juga akan menimbulkan friksi kontraproduktif di antara sesama Muslim," bebernya.

Ia melanjutkan, apabila  keseimbangan antara level iman dan ilmu dalam membaca wabah telah dimiliki, maka seorang Muslim akan mudah memahami kaidah.

"Pertama, tidak boleh membahayakan diri dan membahayakan orang lain, kedua, menghilangkan kerusakan didahulukan daripada meraih kemaslahatan, ketiga, bahaya harus dihindari, keempat, tidak ada yang memudharatkan dan dimudharatkan," paparnya.

Lebih dalam ia menerangkan, Islam telah dengan tegas menyediakan perangkat normatif, historis dan empirik terkait wabah. Dengan tiga perangkat ini, idealnya di antara umat Islam tidak terjadi perselisihan yang justru tidak dilandasi oleh ilmu. Ulama yang mendalami ilmu agama, idealnya juga memiliki kemampuan saintifik, setidaknya tidak anti sains.

"Begitupun saintis Muslim, idealnya memiliki ilmu agama yang kuat, setidaknya tidak anti agama. Saintis Muslim tidaklah sama dengan saintis Barat yang kebanyakan ateis. Saintis Muslim adalah ilmuwan profesional sekaligus orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah yang sering disebut ulil albab," pungkasnya.[] Faizah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar