Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ketika Sekolah Tidak Lagi Menjadi Tempat yang Aman


Topswara.com -- Kita pasti sudah sering dengar soal bullying yang terjadi di sekolah. Kadang awalnya hanya dianggap bercanda, seperti mengejek atau jahilin teman. Tetapi ternyata hal seperti itu bisa jadi serius kalau terus dibiarkan. Seperti yang terjadi di Pemalang. 

Anak kelas 2 SD, bernama Aqib usianya 7 tahun, meninggal setelah diduga mengalami bullying dari kakak kelasnya.
Sebelumnya Aqib sempat dirawat di rumah sakit dan menjadi lebih pendiam. 
(detikJateng 2 Oktober 2026).

Sungguh memprihatinkan bahwa peristiwa tersebut terjadi di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan mendidik, tempat yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman, tempat buat belajar dan bermain bersama teman, justru menjadi tempat yang menimbulkan rasa takut pada anak.

Kalau sudah seperti ini, siapa yang harus disalahkan? Ya jelas pelakunya salah. Tetapi kalau hanya berhenti pada kesalahan pelaku, maka penyelesaian persoalan ini belum menyentuh akar persoalan. 

Kita perlu melihat kenapa anak bisa sampai melakukan hal seperti itu. Anak tidak akan tiba-tiba bangun tidur terus memutuskan mau menjadi pelaku bullying. Ada lingkungan yang membentuk dia, pola didik dikeluarga, lingkungan pergaulan, apa yang dia lihat, dan nilai-nilai yang selama ini dia dapat.

Terkadang orang tua juga terlalu berorientasi pada pencapaian akademik. Anak dituntut untuk memiliki kecerdasan, memperoleh nilai akademik yang tinggi, dan meraih berbagai prestasi. Memang itu penting, tetapi kalau hanya itu yang dikejar, bagaimana dengan pembentukan sikap, karakter, dan moral anak? 

Anak juga perlu diajarkan untuk menghargai orang lain. Sebab, nilai bagus dan banyak prestasi tidak cukup jika masih menganggap ejekan dan tindakan menyakiti orang lain sebagai candaan.

Kalau dipikir-pikir, bullying juga ada hubungannya dengan cara pendidikan orangtua saat ini. Anak-anak dituntut untuk pintar, mendapat nilai bagus, berprestasi, dan bersaing dengan orang lain. Semua itu memang penting, tetapi terkadang sikap dan cara mereka memperlakukan orang lain justru kurang diperhatikan.

Apalagi kalau agama tidak dijadikan dasar dalam kehidupan sehari-hari. Akhirnya anak bisa saja pintar dan berprestasi, tetapi belum tentu paham bagaimana cara menghargai orang lain. 

Saat bullying terjadi, kita baru ramai-ramai mencari tahu siapa yang salah, siapa korbannya, dan hukuman apa yang pantas diberikan kepada pelaku. Padahal, sejak awal kita harus memikirkan bagaimana caranya agar anak tidak terbiasa menyakiti orang lain.

Dalam Islam, pendidikan bukan cuma tentang membuat anak pintar, tetapi juga membentuk kepribadian anak berdasarkan ajaran Islam sejak dini. Anak diajarkan untuk membedakan yang benar dan salah, menghargai orang lain, menjaga ucapan, tidak menyakiti sesama, dan bertanggung jawab atas setiap perbuatannya.

Jadi, hal ini bukan baru dibahas saat bullying terjadi, tetapi harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari sejak awal.

Masalah ini bukan cuma tanggung jawab guru, tetapi juga orang tua, lingkungan, dan negara. Jangan sampai semuanya baru bertindak setelah ada korban. 

Pendidikan seharus diperhatikan secara menyeluruh, mulai dari guru, fasilitas, sampai kurikulum yang digunakan. Jangan sampai hanya sibuk mengejar nilai, tetapi bagaimana anak-anak ini bisa tumbuh dengan kepribadian yang baik juga harus dipikirkan.

Kalau ada yang melakukan bullying, tetap harus ditindak tegas. Tetapi korban juga harus diperhatikan, bukan malah disuruh diam atau diminta memaklumi dengan alasan “namanya juga anak-anak”. Kalau sudah menyakiti orang lain, masalahnya tetap harus diselesaikan.

Jadi, kalau kita ingin perundungan benar-benar berkurang, kita tidak bisa hanya bertindak setelah kejadian, tetapi juga harus mencegahnya sejak awal. Anak-anak perlu dibiasakan dari awal untuk tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, termasuk soal memperlakukan orang lain. Jangan sampai mengejek atau menyakiti teman dianggap hanya bercanda. 

Kalau dari awal sudah dibentuk dengan pemahaman yang baik, setidaknya anak punya pegangan dalam bersikap. 

Dalam Islam, hal itu dimulai dari akidah. Bukan cuma anaknya yang dibentuk, tetapi keluarga, lingkungan, dan negara juga punya peran supaya pendidikan itu benar-benar membentuk karakter anak, bukan hanya sekadar membuat mereka pintar atau dapat nilai bagus, tetapi juga membentuk pribadi yang baik dan menghargai sesama. 

Sebab, keberhasilan pendidikan bukan hanya dilihat dari seberapa tinggi nilai seorang anak, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain.


Oleh: Nilam Astriati 
Aktivis Muslimah
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar