Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hari Santri: Saatnya Melahirkan Generasi Berkepribadian Islam


Topswara.com -- Selamat Hari Santri! 
Jangan sampai Hari Santri hanya ramai dengan foto bersarung, peci, dan ucapan di media sosial. Ada misi yang jauh lebih penting, yaitu melahirkan generasi yang menjadikan Islam sebagai pedoman berpikir dan bertindak.

Sebab, pendidikan Islam bukan sekadar mencetak orang pintar, pandai membaca kitab, atau fasih menyampaikan dalil. Lebih dari itu, pendidikan harus membentuk syakhsiyah Islamiah atau kepribadian Islam.

Lantas, apa saja poin pentingnya?

Pertama, berpikir dengan akidah Islam. Pendidikan Islam bukan sekadar menghasilkan manusia cerdas secara akademik, melainkan membentuk pribadi yang menjadikan akidah Islam sebagai dasar berpikir dan berperilaku. Inilah yang disebut syakhsiyah Islamiah atau kepribadian Islam.

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah membahas pembentukan kepribadian melalui pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah).
Aqliyah Islamiah berarti menjadikan akidah Islam sebagai landasan berpikir, sedangkan nafsiyah Islamiah berarti menjadikan Islam sebagai landasan dalam memenuhi kebutuhan dan dorongan hidup.

Sederhananya, santri bukan cuma bisa menjawab, “Apa dalilnya?” tetapi juga berusaha menjadikan dalil sebagai pedoman hidup. Ketika berdagang, ia memperhatikan halal dan haram. Ketika bergaul, ia menjaga batasan syariat. Ketika melihat kemungkaran, ia tidak menganggapnya biasa hanya karena sedang tren.

Bukan hari ini mengaji, besok menipu. Pagi bicara amanah, siang menyalahgunakan jabatan. Lha, kalau begitu, yang berubah baru jadwal kegiatannya, bukan kepribadiannya.

Kedua, berilmu dan berakhlak. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menekankan pentingnya penyucian jiwa, pembinaan akhlak, dan hubungan ilmu dengan amal. Ilmu bukan sekadar koleksi pengetahuan, tetapi harus membimbing manusia menuju kebaikan.

Santri yang belajar kejujuran semestinya berusaha jujur meski tidak diawasi. Yang belajar tawaduk tidak menggunakan kepandaian untuk merendahkan orang lain. Yang memahami amanah tidak mempermainkan tanggung jawab.

Tentu, santri juga manusia biasa. Bisa salah, lelah, bahkan futur. Pendidikan bukan menyulap manusia menjadi malaikat, melainkan membina mereka agar terus memperbaiki diri. Namun, jangan pula menjadikan kalimat “namanya juga manusia” sebagai kartu bebas untuk mengulang kesalahan tanpa mau belajar.

Ketiga, peka terhadap permasalahan umat. Santri tidak hidup di ruang hampa. Di luar pesantren ada kemiskinan, ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, persoalan moral, dan kebijakan yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah membahas ilmu, pendidikan, masyarakat, dan peradaban. Pemikirannya mengingatkan bahwa pengetahuan tidak terpisah dari kehidupan sosial. Santri perlu memahami ilmu agama sekaligus mempelajari realitas umat agar mampu berkontribusi sesuai kapasitasnya.

Ketika melihat kemiskinan, jangan buru-buru menyimpulkan orang miskin kurang bersyukur. Pelajari juga persoalan ekonomi dan kebijakan yang memengaruhi kehidupan mereka.

Ketika menghadapi persoalan politik, jangan sekadar ikut berteriak paling keras. Pelajari fakta, pahami konsep, lalu nilai persoalan secara bertanggung jawab.

Santri ideologis bukan yang paling kencang suaranya, melainkan yang memahami persoalan dengan landasan Islam dan berusaha menghadirkan solusi berdasarkan ilmu.

Keempat, pendidikan membutuhkan dukungan sistem. Bukan pesantren sendirian! Keluarga menanamkan akidah dan membiasakan nilai Islam sejak dini. Sekolah dan pesantren menguatkannya melalui pendidikan dan keteladanan. Masyarakat membentuk lingkungan pergaulan, sedangkan negara bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan serta mengatur kehidupan yang mendukung pelaksanaan ajaran Islam.

Sulit berharap pendidikan membentuk kepribadian Islam secara utuh apabila nilai yang dipelajari di kelas bertabrakan dengan nilai yang dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Islam bukan hanya ajaran ritual, tetapi juga landasan pengaturan kehidupan. Penerapan syariat secara menyeluruh melalui institusi Khilafah Islamiah merupakan bagian dari gagasan politik beliau.

Gagasan tersebut perlu dipahami melalui kajian serius, bukan sekadar dijadikan slogan di spanduk peringatan.
Hari Santri, Saatnya Naik Kelas! Hari Santri semestinya menjadi momentum mengevaluasi arah pendidikan. 

Apakah pendidikan sudah membentuk pribadi yang berpikir dan bersikap berdasarkan Islam? Apakah ilmu menjadi pedoman hidup? Apakah santri mampu memahami persoalan umat dan berkontribusi nyata? Jangan hanya mengukur keberhasilan pendidikan dari gelar, pekerjaan, penghasilan, atau jumlah pengikut media sosial. Semua itu bukan ukuran tunggal keberhasilan pembentukan kepribadian Islam.

Tujuan pendidikan Islam bukan sekadar membuat manusia tahu tentang Islam, melainkan membina manusia agar menjadikan Islam sebagai pedoman berpikir dan bertindak.

Maka, selamat Hari Santri. Teruslah mengaji, mengkaji, memperbaiki diri, dan memahami persoalan umat. Sarung boleh keren, peci boleh gagah, kitab boleh setinggi menara. Namun, yang terpenting adalah bagaimana Islam benar-benar membentuk kepribadian kita.

Umat tidak hanya membutuhkan orang yang pandai menjelaskan Islam, tetapi juga pribadi yang berilmu, berakhlak, memahami persoalan, dan berusaha menghadirkan solusi berdasarkan Islam.

Hari Santri bukan sekadar perayaan identitas. Ini adalah pengingat tentang amanah ilmu, pembentukan syakhsiyah Islamiah, dan tanggung jawab terhadap umat. []


Oleh: Nabila Zidane 
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar