Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hanya Pemikiran Islam yang Mampu Menjaga Kesehatan Mental


Topswara.com -- Zaman sekarang, menjaga kesehatan mental seperti menjaga saldo rekening. Sedikit berkurang, panik. Disakiti, overthinking. Dikhianati, susah tidur. Melihat tetangga membeli mobil baru, mendadak mempertanyakan keberhasilan hidup sendiri. Teman pamer kebahagiaan, kita ikut merasa kurang bahagia. Padahal, siapa tahu dia sedang ruwet mikir cicilan. Wkwkwk.

Hidup bukan sekadar mencari bahagia, Sob. Allah SWT berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Jika bahagia hanya diukur dari harta dan pengakuan, manusia akan terus berlari tanpa garis finis. Sudah punya rumah ingin lebih besar; sudah dipuji seribu orang, masih gelisah karena satu orang tak menyukai kita. Hidup kok seperti lomba yang garis akhirnya terus dipindahkan.

Pemikiran Islam menempatkan keridaan Allah sebagai orientasi kehidupan. Bukan berarti Muslim dilarang kaya atau menikmati dunia. Namun, dunia bukan ukuran tunggal nilai dirinya. 

Ketika mendapat nikmat, ia bersyukur. Ketika kehilangan, ia bersabar. Bukan karena tak sedih, tetapi karena memahami bahwa dunia bukan segalanya.

Syakhsiyah Islamiyah: Pola Pikir dan Pola Sikap Harus Sejalan

Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, syakhshiyah islamiyah dibangun oleh aqliyah Islamiyah (pola pikir berlandaskan akidah) dan nafsiyah Islamiyah (pola sikap berdasarkan pemahaman Islam).

Kepribadian Islam bukan sekadar penampilan salih atau rajin mengunggah nasihat saja, tapi terwujud dalam amal kesehariannya. Ketika dihina, ia tak otomatis membalas. Ketika dikhianati, ia tak menganggap semua manusia buruk. Bukan karena tak punya perasaan, melainkan karena perasaan tidak menjadi penguasa tunggal atas keputusan hidupnya.

Kedewasaan bukan selalu tersenyum, tetapi tetap berusaha bersikap benar sekalipun hati terluka. Ada ungkapan yang populer dinisbatkan kepada Umar bin Khattab ra. "Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tidak tahu manakah diantara keduanya itu yang lebih baik bagiku..” 

Maknanya sejalan dengan Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 216 yang isinya boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kita, dan menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagi kita.

Kegagalan atau pengkhianatan sering terasa seperti akhir dunia, padahal pengetahuan kita terbatas. 

Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan agar kita tak tergesa menilai keterlambatan pemberian Allah sebagai keburukan. Tugas kita bukan memaksa semua peristiwa mengikuti skenario pribadi, melainkan berikhtiar, berdoa, menaati Allah, mengevaluasi diri, lalu bertawakal. 

Boleh punya rencana, tetapi jangan merasa Allah wajib mengikuti jadwal kita sendiri. Jangan gantungkan kedamaian kepada manusia. Mau disakiti, dikhianati, atau dibohongi itu bisa menjadi ujian, tetapi bukan berarti Allah meridai kezaliman.

Ia yang berbuat, kita yang kehilangan tidur. Ia yang berkhianat, kita yang kehilangan kepercayaan kepada semua orang. Ia yang berbohong, kita yang merasa gagal. Lha, kok orang lain yang berbuat, kita yang membayar cicilan emosinya berbulan-bulan?

Memaafkan bukan membenarkan kezaliman. Bersabar bukan membiarkan diri terus disakiti. Islam mengajarkan keadilan, keberanian menetapkan batas, dan perjuangan memperoleh hak dengan cara benar.

"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap pada manusia.” (Ali bin Abi Thalib).

Pesannya tersebut layak direnungkan, jangan gantungkan seluruh harapan kepada makhluk. Berharap kepada manusia itu wajar, tapi menjadikannya satu-satunya sumber bahagia, berbeda perkara.

Allah SWT berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28).

Zikir mengingatkan manusia kepada Allah dan menguatkan orientasi hidup. Orang beriman tetap bisa menangis, takut, bersedih, dan lelah.

Jadi, jangan mengukur kesehatan mental hanya dari senyum seseorang, seolah-olah orang beriman dilarang mengalami hari buruk. Ketenangan bukan berarti tak pernah terluka, melainkan menghadapi luka tanpa kehilangan arah. 

Ingat Sobat Nabila, kita tak bisa mengendalikan tindakan semua orang, tetapi bertanggung jawab atas pilihan sikap sendiri. 

Biarkan orang lain berkomentar. Tidak semua tuduhan harus dijawab, persaingan harus diikuti, atau orang harus menyukai kita.

Tugas kita bukan memenangkan penilaian manusia, melainkan menjalani hidup dengan benar di hadapan Allah. Tujuan hidup yang jelas membuat tepuk tangan manusia tak lagi menjadi kompas.

Manusia yang memahami tujuan penciptaannya tak harus mendapatkan semua keinginannya untuk tetap menjalani hidup. Ia berusaha, bersabar tanpa menyerah pada kezaliman, dan tahu kepada siapa harus kembali. []


Oleh: Nabila Zidane 
(Jurnalis)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar