Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Asy-Syifa binti Abdullah: Bukan Sosok Wanita Biasa


Topswara.com -- Hari ini negeri kita sedang dikepung berbagai krisis. Isu kesehatan pascabencana, merebak di daerah-daerah terdampak, mulai dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Beban hidup masyarakat juga kian berat, akibat fluktuasi ekonomi yang menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok melambung tinggi. 

Di sisi lain, dunia pendidikan saat ini kian mengenaskan, kehilangan arah, dan tidak lagi menjadi ruang yang sepenuhnya aman dan nyaman bagi generasi muda untuk menuntut ilmu. Di tengah karut-marut persoalan sosial ini, muncul sebuah pertanyaan mendasar, adakah role mode Muslimah dari generasi terdahulu yang menaruh perhatian dan kontribusi nyata pada persoalan kesehatan, ketahanan pangan, sekaligus pendidikan?

Siapakah Dia?

Sejarah Islam mencatat sosok mulia bernama Asy-Syifa binti Abdullah. Dia bersinar karena kecerdasannya yang jauh melampaui zaman. 

Lahir dengan nama asli Laila, beliau berasal dari keluarga terhormat klan Bani Adi suku Quraisy. Silsilah lengkapnya adalah Asy-Syifa binti Abdullah bin Abdi Syams bin Khalaf bin Sadad bin Abdullah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab al-Qurasyiyyah al-Adawiyah. Ibunya bernama Fathimah binti Abi Wahb dari klan Bani Makhzum.

Julukan "Asy-Syifa" (Sang Penyembuh) melekat padanya karena lewat keahlian medis dan ketulusan tangan cerdasnya, dengan izin Allah SWT, banyak membantu menyembuhkan umat dari penyakit.

Asy-Syifa memeluk Islam pada masa awal di Makkah dan termasuk golongan Muhajirin pertama yang berhijrah ke Madinah.  Dia juga termasuk umat yang ikut mengikrarkan sumpah setia (baiat) yang di sebutkan Allah SWT dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 12.

Sejarah telah meriwayatkan gambaran Asy-Syifa sebagai salah satu cendekia wanita yang sangat langka karena telah menguasai kemampuan literasi baca-tulis, kemudian aktif mengajarkannya, serta pengobatan tradisional sejak zaman jahiliyah.

Peran Menonjol Asy-Syifa

Pernah suatu ketika wabah penyakit kulit sejenis cacar melanda Madinah. Asy-Syifa ikut terjun menanganinya. Dia menggunakan metode pengobatan tradisional Ruqyah Namlah. 

Berbagai catatan mengisahkan bahwa Asy-Syifa sempat ragu menggunakan mantra pengobatannya setelah masuk Islam karena takut mengandung kesyirikan. Rasulullah SAW kemudian memeriksa metodenya, menyetujuinya, dan bersabda: "Obatilah ia dengan jampi-jampi itu serta ajarkanlah kepada Hafshah sebagaimana engkau mengajarinya menulis." 

Rasulullah mengakui kemampuan Asy-Syifa sehingga memberikan kepadanya fasilitas sebuah rumah khusus yang berfungsi sebagai klinik komunitas pertama. Di sana Asy-Syifa dibantu oleh suaminya, Abu Khatmah, dan anaknya, Sulaiman.

Sementara itu, setelah Rasulullah wafat, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Asy-Syifa diangkat sebagai Qadhi Hisbah (Pengawas Pasar) di Madinah. Tugasnya memastikan kejujuran timbangan, ketiadaan penipuan bahan yang dijual, mencegah penimbunan barang dagangan yang bisa melambungkan harga pangan, dan menjaga etika muamalah di ruang publik. 

Bahkan Khalifah Umar seringkali menjadikannya penasihat untuk meminta masukan terkait urusan pemerintahan karena keluasan ilmunya.

Hebatnya, kiprah publik (ummu ajyal) dalam dakwah yakni perjuangan menegakkan syariat Islam di masa sebelum hijrah,  baik di bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, sukses dijalankan oleh Asy-Syifa secara seimbang tanpa sedikit pun menelantarkan perannya sebagai ibu dan istri di rumah (ummu wa rabbatul bait) hingga wafatnya pada tahun 20 Hijriyah.

Khatimah

Kisah hidup Asy-Syifa menjadi bukti nyata bahwa dalam kondisi berbagai krisis serta kehidupan sistem sekuler kapitalisme yang tidak mendukung syariat Islam saat ini, bukan penghalang bagi seorang Muslimah untuk menjadi problem solver bagi permasalahan umat. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Asy-Syifa yang luar biasa, bukan sosok wanita biasa. []


Oleh: Sitha Soehaimi 
(Aktivitas Muslimah)
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar