Topswara.com -- Di tanggal 2 Mei di setiap tahunnya Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan penuh semangat. Di hari itu orang banyak berbicara tentang pentingnya pendidikan, masa depan generasi, dan banyak harapan yang dipanjatkan bagi bangsa. Namun di balik seremoni itu, ada pertanyaan yang sulit dihindari. Benarkah kondisi pendidikan kita sedang baik- baik saja?
Realitas di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Berbagai kasus kekerasan yang melibatkan pelajar terus terjadi dan semakin menghawatirkan. Di Bantul Yogyakarta, seorang pelajar meregang nyawa setelah dikeroyok secara sadis, brutal hingga dilindas motor beberapa kali oleh para pelaku (kumparannews/21April2026).
Kasus lain yang terjadi di Bandung juga menjerat sejumlah pelajar sebagai tersangka dalam kematian siswa SMA (Kompas.id/21 April 2026).
Selain itu, berbagai bentuk penyimpangan lain seperti penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar serta merosotnya adab terhadap guru semakin memperjelas bahwa dunia pendidikan hari ini sedang tidak bak- baik saja.
Melihat semua yang terjadi, sulit rasanya mengatakan bahwa rangkaian kejadian ini hanya fenomena kenakalan remaja. Ada sesuatu yang lebih dalam dari semua ini. Pada level individu pelajar, kita bisa menyaksikan terjadi fenomena perubahan karakter.
Banyak pelajar tumbuh dengan pola pikir instan yang menginginkan hasil gemilang tanpa proses panjang. Akibatnya kejujuran menjadi nomor ke sekian, yang penting tujuan bisa tercapai. Tidak heran jika kecurangan hari ini dianggap hal yang biasa bahkan dalam beberapa kasus dinilai sebagai hal yang dimaklumi.
Bukan hanya karakter individu pelajar yang berubah, relasi sosial pun ikut mengalami pergeseran. Rasa hormat kepada guru tidak lagi dirasakan sekuat dulu. Candaan yang kasar bahkan cenderung merendahkan menjadi hal yang lumrah diantara teman sebaya.
Hal ini juga semakin diperparah dengan lingkungan pergaulan yang sering kali tidak menjadi tempat untuk saling mengingatkan. Bahkan kini lingkungan pergaulan justru memperkuat prilaku yang salah. Pada titik ini kita bisa melihat adanya krisis kepribadian bukan hanya karena tidak tahu mana yang benar, tetapi merasa tidak perlu lagi melakukan yang benar.
Namun, pada hakikatnya masalah ini bukanlah semata mengenai individu pelajar. Karena sejatinya mereka tumbuh dalam sistem yang membentuk cara berpikir dan cara hidup mereka.
Pendidikan yang dijalankan hari ini lebih banyak menekankan kepada hasil seperi nilai, ranking, ijazah yang pada akhirnya berkolerasi pada pekerjaan dan penghasilan. Sementara itu, pembentukan karakter seringkali hanya menjadi pelengkap bukan inti dari pendidikan.
Di sinilah persoalan menjadi lebih jelas. Sistem pendidikan yang diterapkan saat ini cenderung memisahkan antara ilmu dan nilai. Agama diajarkan tetapi tidak selalu menjadi landasan dalam bertindak. Akibatnya, pelajar bisa saja paham mana yang benar, tetapi tidak merasa terikat untuk menjalankannya.
Ditambah lagi, sanksi yang lemah tidak menimbulkan efek jera bagi para pelaku pelanggaran. Dampaknya dalam kondisi seperti ini, perilaku menyimpang menjadi sesuatau yang mudah terulang.
Jika ditarik lebih jauh, semua ini berakar pada sistem nilai yang dianut, yaitu sitem kapitalisme sekuler. Sistem ini menempatkan kesuksesan pada ukuran materi dan memisahkan agama dari kehidupan sehari- hari.
Dalam kerangka sistem ini, yang penting adalah hasil, bukan cara memperoleh hasil. Selama tujuan bisa tercapai, proses seringkali menjadi sesuatu yang diabaikan. Tidak heran jika kecurangan, kekerasan, dan berbagai penyimpangan terus bermunculan bak jamur di musim hujan. Karena sistem kapitalisme sendiri bukanlah sistem yang benar- benar menjaga moral.
Lalu apa yang bisa menjadi jalan keluar?
Dalam Islam, pendidikan tidak hanya berbicara tentang kecerdasan, tetapi juga tentang pembentukan manusia secara utuh. Ilmu dan iman haruslah berajalan beriringan.
Akidah menjadi dasar berpikir, sehingga setiap tindakan tidak lepas dari kesadaran akan tanggung jawab kepada Allah. Dalam fondasi ini kejujuran bukan sekedar tuntutan eksternal, tetapi merupakan kebutuhan dari dalam diri.
Pendidikan dalam Islam juga menekankan pembentukan kepribadian (saksiyah Islamiyah) di mana pola pikir dan pola sikap selaras. Artinya, seseorang tidak hanya mengetahui mana yang benar. Tetapi ia juga terdorong untuk melakukan hal yang benar. Dalam Islam kecurangan dan penyimpangan bukan hanya melanggar aturan tetapi juga bertentangan dengan keyakinan.
Selain itu, Islam tidak membiarkan pelanggaran tanpa konsekuensi. Ada sistem sanksi yang tegas sebagai bentuk perlindungan bagi masyarakat. Sanksi ini diterapkan bukan semata-mata untuk menghukum, tetapi sebagai pencegah menjaga agar kesalahan tidak menjadi kebiasaan.
Dengan adaya batasan yang jelas yakni perintah dan larangan Allah atau halal haram dalam syariat, masyarakat memiliki pegangan yang jelas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Peran negara pun tidak bisa diabaikan.
Dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab memastikan pendidikan berjalan dengan benar. Bukan hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga menjaga arah dan nilai yang diajarkan di dalam sistem pendidikan.
Lingkungan yang terbentuk pun akan mendukung terciptanya budaya saling menghormati dan berlomba dalam kebaikan.
Akhirnya, refleksi Hardiknas seharusnya tidak berhenti pada tataran seremoni. Ia menjadi momen untuk bertanya dengan jujur akan dibawa ke mana arah pendidikan kita hari ini? Jika berbagai masalah terus berulang, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya pelakunya, tetapi juga sistem yang melahirkannya.
Wallahualam bishawab.
Oleh: Sely Nur Amelia
Aktivis Muslimah

0 Komentar