Topswara.com -- Kalau anakmu suatu hari membentakmu dengan nada yang sama seperti dulu kamu dibentak orang tuamu, jangan kaget.
Itu bukan kebetulan. Itu warisan. Luka yang tidak disembuhkan, hampir selalu menemukan jalan untuk diwariskan.
Kita sering berkata, “Aku keras karena dulu hidupku keras.” Seolah itu pembenaran.
Padahal bisa jadi anakmu sedang membayar harga dari masa lalu yang belum pernah kamu bereskan.
Anak tidak hanya mewarisi wajah dan nama. Mereka mewarisi cara kita marah. Cara kita menyelesaikan konflik. Cara kita memaknai takdir.
Kalau orang tua mudah menyalahkan keadaan, anak belajar menyalahkan. Kalau orang tua pahit terhadap ujian, anak belajar pahit. Kalau orang tua merasa hidupnya korban takdir, anak pun tumbuh dengan mental yang sama. Padahal dalam Islam, takdir bukan alasan untuk melempar tanggung jawab.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam pembahasan qadha dan qadar menjelaskan bahwa manusia bertanggung jawab atas perbuatannya dalam wilayah ikhtiarnya. Artinya, sikap kita terhadap ujian bukan paksaan takdir. Itu pilihan sadar.
Jangan sembunyi di balik kalimat, “Sudah takdirnya begini.” Takdir adalah ketetapan Allah atas kejadian. Tapi respons kita terhadap kejadian itu adalah amanah.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa hati yang tidak dibersihkan akan mengotori amal. Luka yang tidak disadari akan merusak cara kita mendidik, meski kita merasa sedang benar.
Allah berfirman, “Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al-Muddatstsir: 38)
Ayat ini menegaskan bahwa kita tidak diminta mempertanggungjawabkan masa kecil kita. Tetapi kita akan diminta pertanggungjawaban atas masa kecil anak kita.
Takdir mungkin membuat kita lahir dari keluarga yang tidak ideal. Tapi takdir tidak memaksa kita mengulang pola yang sama.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa manusia tidak dipaksa dalam perbuatannya yang berada dalam wilayah pilihannya. Kita diberi akal dan kehendak. Maka bagaimana kita memperlakukan anak, itu bukan nasib. Itu keputusan.
Anak tidak butuh orang tua sempurna. Mereka butuh orang tua yang sadar diri. Kalimat sederhana seperti,
“Maaf, Ibu tadi salah.”
“Maaf ya nak, Ayah terlalu keras.”
Itu lebih menyembuhkan daripada seribu nasihat. Karena anak belajar dari contoh, bukan teori.
Kalau kita ingin anak tidak menyalahkan takdir, berhenti menyalahkan takdir.
Kalau kita ingin anak kuat, jadilah orang tua yang berani memperbaiki diri.
Kalau kita ingin anak lembut, lunakkan dulu hati kita sendiri.
Takdir bukan untuk dituduh. Takdir adalah panggung untuk menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.
Sekarang jawab dengan jujur, "Apakah kamu sedang menyembuhkan lukamu atau sedang mewariskannya?" []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar