Topswara.com -- “Punya suami seperti enggak punya, apa-apa mikir sendiri, apa-apa kerjain sendiri.”
Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan luka yang dalam. Dan mirisnya, ini bukan cerita satu dua perempuan. Banyak istri yang secara status menikah, tetapi secara rasa? Sendirian.
Secara psikologis, kondisi ini disebut loneliness in marriage (kesepian di dalam pernikahan). Bukan karena tidak punya pasangan, tetapi karena tidak ada kehadiran emosional, perhatian, atau tanggung jawab nyata dari pasangan.
Istri bukan cuma butuh uang bulanan.Bukan cuma butuh status “Istri sah”. Tetapi butuh, didengar, dihargai, dibantu, diperhatikan, ditemani dalam beban hidup. Ketika semua itu tidak ada, maka yang terjadi adalah kelelahan batin.
Awalnya istri protes. Lalu mengeluh. Kemudian menangis. Setelah itu diam dan akhirnya, mati rasa. Bukan karena sudah kuat, tetapi karena sudah terlalu lelah berharap.
Pernikahan dalam Pandangan Islam
Islam tidak mengenal konsep “Istri Sendirian”. Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar legalitas hubungan. Pernikahan adalah mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kuat dan berat) (QS An-Nisa: 21).
Artinya, ini bukan hubungan main-main. Ini akad yang disaksikan Allah. Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya…”
(QS. Ar-Rum: 21).
Kata kuncinya, litaskunu ilaiha (agar kamu merasa tenang bersamanya). Bukan merasa sendirian, merasa diabaikan, merasa seperti pembantu tanpa gaji
atau seperti ibu tunggal yang kebetulan masih punya suami.
Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Jadi ukuran kebaikan seorang laki-laki dalam Islam bukan cuma dari ibadahnya, tetapi juga dari cara dia memperlakukan istrinya.
Pandangan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani
Dalam Asy-Syakhsiyyah al-Islamiyyah, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa hubungan suami-istri dalam Islam dibangun atas dasar mawaddah wa rahmah, yaitu cinta dan kasih sayang yang nyata dalam tindakan, bukan sekadar ucapan.
Beliau menekankan bahwa suami adalah qawwam (pemimpin) bagi istri. Kepemimpinan itu bukan sekadar otoritas, tapi tanggung jawab dan pelayanan.
Qawwam artinya menjaga, melindungi, menafkahi, mengurus, memperhatikan keadaan istri. Jadi kalau ada istri yang sakit, tapi suami cuek. Capek, tetapi suami tak peduli. Bingung, tetapi suami tak hadir Terbebani, tapi suami tak mau tahu, maka itu bukan gambaran qawwam dalam Islam. Itu gambaran suami yang gagal menjalankan amanahnya.
Kenapa Fenomena Ini Banyak Terjadi?
Karena pernikahan hari ini banyak dibangun dengan standar sekuler, bukan standar syariat. Yang penting cinta, cocok, nyaman, fun, “Yang penting happy."
Tetapi lupa tanggung jawab, kepemimpinan, peran syari, hak dan kewajiban dalam Islam.
Akibatnya, banyak suami yang
mau haknya, tetapi malas menjalankan kewajibannya dan banyak istri yang dituntuth sabar terus, tetapi tidak pernah benar-benar diperlakukan dengan adil.
Solusi Islam
Solusi Islam bukan sekadar sabar, ikhlas dan bertahan. Islam punya solusi sistemis dan personal. Pertama, perbaikan pemahaman. Suami harus paham bahwa menikah itu amanah. Istri bukan beban. Istri bukan pembantu gratisan. Istri adalah tanggung jawab yang akan ditanya di hadapan Allah Swt.
Kedua, penegakan peran qawwam. Suami harus hadir secara fisik, emosional dan tanggung jawab. Ketiga, sistem Islam yang membentuk laki-laki bertakwa. Dalam sistem Islam, pendidikan membentuk lelaki bertanggung jawab. Negara mengontrol moral masyarakat.
Syariat ditegakkan secara menyeluruh. Bukan seperti sekarang, dimana laki-laki bebas tanpa arah. Tanggung jawab dianggap opsional dan pernikahan hanya formalitas sosial.
Jadi Pak, istri itu tidak butuh suami yang sekadar ada di kartu keluarga. Istri butuh suami yang hadir, peduli, bertanggung jawab, menjadi tempat pulang, bukan sumber luka.
Karena dalam Islam, rumah tangga bukan medan kesepian. Rumah tangga adalah tempat sakinah, tempat hati beristirahat. Kalau seorang istri justru merasa sendirian di dalam pernikahannya, maka yang harus ditanya bukan cuma perasaannya tetapi apakah syariat sudah benar-benar dijalankan dalam rumah tangga itu.[]
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar