Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Gencatan Senjata dan Perdamaian ala AS: Racun Berbalut Madu


Topswara.com -- Setelah sekian lamanya penjajahan pendudukan zionis Israel di Palestina tak kunjung usai, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berinisiatif membentuk Dewan Perdamaian Board of Peace (BoP) sebagai pengawasan terhadap perdamaian Palestina sekaligus rekonstruksi Gaza. 

Pastinya kita semua sudah membayangkan pembentukan Dewan Perdamaian (BoP) ini akan menghentikan peperangan, penderitaan serta membuka jalur bantuan dari seluruh negeri untuk Palestina. 

Namun sayangnya, setelah BoP terbentuk Israel kembali melakukan pelanggaran gencatan senjata dengan menjatuhkan bom di Gaza yang menciptakan bola api besar. Dilaporkan sedikitnya ada 32 warga Palestina di antaranya perempuan dan anak-anak yang tewas akibat gelombang serangan udara (kompas.com, 31/1/2026)

Selain itu, Israel juga melakukan serangan udara yang menghantam sebuah bangunan di Khan Younis, Palestina, Jumat ((6/2/26). Serangan tersebut mengenai bangunan rumah dan sekolah yang menjadi tempat pengungsian. Peristiwa ledakan ini pun terekam jelas oleh pihak media nasional hingga internasional sehingga langsung tersebar luas di media sosial.

Ironisnya peristiwa ini tetap terjadi setelah pembentukan BoP (Board of Peace), lalu di manakah keberpihakan BoP yang digadang-gadang sebagai Dewan Perdamaian untuk Palestina? 

Nyatanya zionis Israel tetap melayangkan serangan bom dan tetap melanggar perjanjian yang sudah disepakati. Dan mengapa BoP sendiri tidak dapat memberikan sanksi tegas pada zionis Israel atas pelanggaran yang dilakukan?

Fakta-fakta ini pun menjadi sebuah pertanyaan besar bagi dunia terutama para pemimpin umat Islam, mengapa kita masih percaya pada negara kafir (Israel AS) setelah mereka beberapa kali melakukan perjanjian gencatan senjata dan berkali-kali juga melanggar perjanjian itu. Dunia hari ini terlalu naif jika masih percaya dengan janji-janji gencatan senjata dan BoP yang diinisiasi AS. 

Kenyataannya, semua ini membuktikan bahwa gencatan senjata dan pembentukan BoP hanya sandiwara politik ibarat racun berbalut madu. Dari luar tampak manis seolah menawarkan perdamaian yang hakiki, namun di dalamnya sebenarnya tak ada sedikit pun keadilan yang ditegakkan. 

Sebaliknya, di balik gencatan senjata ada tujuan tersembunyi, yakni sebagai jalan bagi Israel menata ulang kekuatan militer dan strateginya untuk kembali melakukan penyerangan di Palestina. 

Sedangkan AS melalui pembentukan BoP ini menjadi jalan strategis secara halus untuk melanggengkan pendudukan zionis Israel di tanah Palestina. Maka perdamaian BoP ini hanyalah ilusi bagi pembebasan Palestina, sebaliknya ini adalah metode melanggengkan penjajahan zionis Israel di Palestina.

Namun yang lebih menyayat hati, penguasa negeri-negeri muslim tak punya nyali untuk melawan negara penjajah sekelas AS dan Israel, hanya dengan alasan untuk menjaga keamanan kawasan dan mencegah perang makin luas. 

Bahkan lebih parahnya lagi sebagian dari mereka salah satunya negara kita Indonesia dengan kerelaan hati bergabung dalam keanggotaan BoP. Sikap ini menunjukkan betapa lemah dan tidak berdaulatnya negeri-negeri muslim saat ini dalam menghadapi kemungkaran dan berpihak pada kebenaran. 

Padahal sejatinya Islam dengan jelas menyatakan haram mendukung dan membenarkan kezaliman AS, bahkan terdapat ancaman keras bagi pelakunya sebagaimana firman-Nya: "Janganlah kalian cenderung kepada para pelaku kezaliman yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka. Sekali-kali kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kalian tidak akan ditolong" (QS. Hud: 113).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT melarang dengan tegas dan keras bagi orang beriman untuk cenderung, bersandar atau meridai perbuatan orang zalim/kafir. Maka kita sebagai umat Islam harus bersikap tegas, zero toleran terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian yang diopinikan AS-Israel. 

Hakikatnya Islam memandang masalah Palestina bukan sebatas perselisihan dua negara mengenai kepemilikan tanah, sebaliknya ini adalah murni penjajahan. Sejatinya solusi perdamaian bukanlah sekedar berhentinya perang sementara melalui gencatan senjata, melainkan dihapuskannya penjajahan secara totalitas di seluruh negeri-negeri muslim.

Maka untuk mewujudkan semua itu diperlukan kesatuan umat dalam politik dan kekuatan seorang pemimpin. Tanpa ada persatuan umat dan kepemimpinan yang satu, negeri-negeri muslim akan lemah karena terpecah belah dan terus mengalami penjajahan.

Sudah waktunya kita memahamkan umat dan para penguasa muslim terkait kewajiban membela tanah kaum muslimin melalui jihad, sebagaimana keberhasilan jihad kaum muslimin dalam membebaskan Palestina dari kekausaant Romawi di masa Khalifah Umar bin al-khaththab di bawah naungan khilafah. 

Maka hanya dengan khilafah, negeri-negeri muslim di dunia dapat bersatu dalam satu kepemimpinan yang sama yakni Islam. Di bawah naungan khilafah umat Islam akan berjihad mengirimkan militernya untuk membantu pembebasan Palestina dari kafir penjajah. 

Sudah saatnya umat muslim mengambil peran melakukan amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat, termasuk penguasa untuk menerapkan kembali hukum syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Sehingga Islam rahmatan lil 'alamin dapat dirasakan oleh seluruh manusia dan alam semesta. []


Oleh: Desi Rahmawati
Aktivis Muslimah 
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar