Terbaru

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Caleg Kalah Rawan Gangguan Jiwa, Inikah Dampak Pesta Demokrasi?

Topswara.com -- Tinggal menghitung hari pesta demokrasi untuk memilih presiden dan wakil presiden, serta para anggota legislatif akan digelar. Banyak harapan yang digantungkan oleh mereka yang telah mendaftarkan diri menjadi caleg, apalagi kalau bukan terpilih sebagai wakil rakyat. Kemenangan yang menjadi asa, tak urung mendatangkan kecewa bila tersisih dalam kompetisi.

Berdasarkan pengalaman dari pemilu-pemilu yang telah dilakukan sebelumnya, sejumlah RS dan RSJ mempersiapkan beberapa ruangan khusus. Salah satunya RS Otto Iskandar Dinata yang berada di Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 

Rumah sakit ini menyiapkan tak kurang 10 ruangan VIP untuk menampung para caleg yang mengalami stres, depresi, serta gangguan jiwa yang lain akibat gagal dalam kontestasi Pemilu 2024. Selain itu RSUD dr. Abdoer Rahim, di Situbondo, Jawa Timur, juga melakukan hal serupa. (Kompas.tv, 24/11/2023)

Senada dengan hal itu, Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta, Abdul Aziz pun mengatakan bahwa kecenderungan caleg stres meningkat pascapemilu. Untuk itu dia meminta kepada Dinas Kesehatan DKI Jakarta agar menyiapkan layanan konseling, maupun fasilitas kesehatan jiwa untuk para pasien peserta pemilu yang gagal. (Detik.news, 26/01/2024)

Kegagalan dalam pemilu dapat menyebabkan stres yang amat tinggi. Kontestasi berbalut politik ala demokrasi semacam ini memang rawan menimbulkan permasalahan kejiwaan. Sebab banyak dari calon peserta pemilu yang menggantungkan harapan begitu tinggi, sementara realitasnya di luar ekspektasi. 

Psikiater Dr. dr. Nova Riyanti Yusuf, SpKj yang juga merupakan Direktur Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional, menyebutkan bahwa caleg yang tidak memiliki tujuan jelas akan lebih rentan mengalami kekecewaan, depresi, dan gangguan mental lainnya ketika kalah dalam pemilihan. 

Sebaliknya mereka yang terlebih dahulu mempersiapkan mental untuk berkompetisi, serta memiliki tujuan dan visi misi yang jelas, umumnya lebih kuat menghadapi guncangan kekalahan.

Selain tidak memiliki tujuan yang jelas, banyak caleg yang berbuat nekat. Demi mencari dana besar untuk biaya maju dalam pemilu, mereka melakukan berbagai cara untuk segera memperoleh uang, di antaranya berutang, menjual berbagai aset, bahkan ada yang sampai menjual ginjalnya. 

Bagaimana tidak! Pemilihan seperti ini berbiaya sangat fantastis. LPM FE UI (Lembaga Penelitian Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) menyebutkan modal untuk menjadi anggota legislatif di DPR RI mencapai Rp1,15miliar-Rp4,6miliar. Sementara untuk menjadi caleg DPRD Provinsi sebesar Rp250juta-Rp500juta. 

Biaya ini untuk daerah di luar DKI Jakarta. Adapun untuk menjadi caleg di ibu kota negara, setidaknya membutuhkan dana 40 miliar rupiah. Demikian yang disampaikan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) selaku Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Terbayang, betapa besar modal yang harus digelontorkan untuk berbagai aktivitas yang mengantarkan para caleg melenggang ke Senayan. Sementara para kontestan tidak semuanya berasal dari golongan berduit. Banyak juga dari mereka yang hanya bermodal pas-pasan. 

Akibatnya ketika mereka gagal dalam pencalonan, berbagai masalah baru menanti di depan mata. Utang yang sangat banyak menunggu untuk dibayar, sementara berbagai aset miliknya sudah melayang, belum lagi rasa malu karena janji-janji yang telanjur diumbar.

Sistem demokrasi pula yang mengiming-imingi para caleg dengan kekuasaan, jabatan, dan materi. Kehidupan mapan, memiliki prestise, dan berbagai fasilitas mewah tentunya sangat menggiurkan bagi mereka yang cinta dunia. 

Sedikit sekali dari mereka yang memiliki keinginan tulus untuk melakukan perubahan di tengah masyarakat. Dengan demikian kegagalan menjadi pukulan luar biasa bagi mereka yang bermental lemah.

Amat disayangkan, pendidikan hari ini telah nyata-nyata gagal menghasilkan generasi yang berkepribadian kuat dan mulia. Sedari muda tak sedikit yang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Yang mereka kejar hanya kepuasan materi. 

Terbukti, ketika gagal dalam mencapai tujuannya, berbagai gangguan mental mudah sekali menghinggapi. Itulah sebabnya ditemukan peningkatan kasus kejiwaan setiap tahunnya. Terlebih pada tahun politik seperti saat ini.

Pendidikan berbasis sekuler kapitalis telah menjauhkan generasi dari pemahaman agama dan penerapan syariat Islam yang sempurna. Mereka tidak memahami hakikat penciptaannya di muka bumi. Keterkaitan dirinya dengan Sang Pencipta, Allah Swt. pun sangat lemah. Oleh karena itu mereka merasa bebas melakukan apapun untuk mengejar materi sebanyak-banyaknya.

Padahal pendidikan memiliki pengaruh yang amat besar terhadap pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Anak manusia yang dididik dengan pemahaman yang kuat terhadap agamanya sedari kecil, cenderung lebih kuat menghadapi berbagai persoalan yang datang dalam kehidupannya. Sehingga tidak mudah 'kena mental' seperti fenomena yang sering terjadi belakangan ini.

Adapun Islam memiliki mekanisme yang khas terkait tatacara pemilihan seorang pemimpin. Metode ini sangatlah simpel dan tidak memerlukan banyak waktu dan biaya. Beberapa orang calon pemimpin (Khalifah) yang memenuhi syarat in'iqad akan dipilih oleh Majelis Umat. Calon-calon ini kemudian akan dipilih lagi sehingga mengerucut menjadi hanya tersisa satu orang yang terpilih menjadi khalifah. 

Kemudian pemimpin baru ini akan di-baiat oleh umat dengan baiat taat. Total waktu yang dibutuhkan dalam prosedur ini sangat singkat, hanya membutuhkan 3 hari. Seperti yang dicontohkan para sahabat Rasulullah saw. sepeninggal wafat beliau, mereka memilih Abu Bakar as-Siddiq sebagai Khalifah pertama umat Islam hanya dalam tempo 3 hari saja. 

Adapun pemilu dilakukan hanya sebagai uslub (cara), dan bukan merupakan metode dalam Islam. Hal ini menjadikan kontestasi politik dalam Islam cenderung minim biaya.

Demikian pula Islam mendidik umatnya agar memahami bahwa jabatan dan kekuasaan adalah sebuah amanah yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Maka orang-orang yang benar imannya, seharusnya merasa khawatir tidak bisa mengemban amanah tersebut dengan baik. 

Apalagi kalau dia adalah seorang pemimpin yang diberi amanah mengurusi umat, maka pertanggungjawabannya akan lebih berat jika tidak mampu mengurus rakyatnya dengan benar.

Allah SWT. berfirman dalam Surah Al Anfal ayat 27 yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."

Hal demikian akan membuat setiap orang tidak haus kekuasaan dan mengejar jabatan, terlebih melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Sebab menyadari benar, beratnya memikul amanah mengurusi umat. Karena bila salah menjalankan amanah, akan berakibat kerusakan di tengah masyarakat, dan murka Allah SWT.

Islam juga mengajarkan keyakinan terhadap qada dan qadar. Bahwasanya ada ranah dimana manusia mengupayakan sesuatu hal, namun hasil akhirnya diserahkan kepada Allah SWT. sebagai Al Khaliq, Al Mudabbir. Sementara manusia diminta untuk bertawakal dan ikhlas akan ketetapan Allah Swt..

Dengan demikian seseorang tidak akan mudah kecewa dengan hasil upayanya, dan tidak menyesali masa lalunya yang sekiranya dirasa kurang maksimal dalam berikhtiar. 

Sebagai seorang yang beriman, dia akan senantiasa bersyukur dan bersabar, jika dalam kehidupannya diuji dengan apa-apa yang tidak sesuai harapannya. Dan hal yang demikian akan menjadikan seorang muslim berkepribadian baik dan bermental kuat, sehingga terhindar dari berbagai penyakit mental.

Wallahualam bissawab.


Oleh: Tatiana Riardiyati Sophia
Pegiat Dakwah dan Literasi
Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar