Topswara.com -- Kadang kita lupa yang diam-diam menegur kita itu bukan manusia, tapi tubuh kita sendiri.
Uban itu bukan sekadar “tanda penuaan” tapi dia adalah alarm kematian yang tumbuh pelan-pelan di kepala. Allah sudah memberi sinyal keras, “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir… dan telah datang kepadamu pemberi peringatan?”
(QS. Fathir: 37)
Para ulama seperti Ibnu Abbas, Qatadah, sampai Sufyan bin ‘Uyainah menjelaskan kata “an-nadzir” dalam ayat itu salah satunya adalah uban.
Iya uban yang mungkin sering dicat hitam sama manusia, ditutupi, bahkan dianggap gangguan penampilan. Padahal uban sedang berkata lirih, “Hei manusia senja, waktu kamu tidak banyak lagi…”
Al-Qurthubi menambahkan, bukan cuma uban, tapi demam, wafatnya orang-orang terdekat semua itu paket peringatan dari Allah.
Masalahnya, peringatan uban telah datang, tapi manusia tetap sibuk berlomba dengan dunia. Semakin tua bukannya semakin sadar, malah semakin rakus.
Nabi SAW sudah mengatakan, “Anak Adam semakin tua, dan bertambah bersamanya dua hal: cinta harta dan panjang angan-angan.” (HR. Bukhari & Muslim)
Nah ini yang bahaya Sob. Uban sudah banyak, jabatan sudah tinggi, harta sudah menumpuk, tapi hati masih sibuk mikirin proyek, kekuasaan dan pencitraan. Seolah-olah hidup ini masih panjang.
Padahal Rasulullah SAW juga sudah ngasih “deadline keras”: “Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun…” (HR. Ibnu Majah)
Dan lebih tegas lagi, “Allah tidak lagi memberi alasan bagi orang yang sudah sampai usia 60 tahun.” (HR. Bukhari)
Artinya apa? Kalau sudah tua, tapi masih kebanyakan gaya, masih zalim, itu bukan karena belum tahu. Tapi karena memilih menutup mata.
Makanya tulisan ini bukan sekadar renungan, tapi ini teguran halus yang seharusnya menusuk.
Wahai pejabat, cukup sudah uban kalian jadi peringatan. Berhentilah merasa dunia ini milik kalian. Berhentilah mempermainkan nasib rakyat. Berhentilah mengumpulkan harta seolah tidak akan mati. Karena satu hal yang pasti bahwa usia dan jabatan kalian akan habis. Tetapi hisab kalian tidak akan pernah lewat.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah menjelaskan, bahwa tujuan hidup manusia bukan sekadar mencari kenikmatan dunia, tetapi menggapai ridha Allah dengan menjalankan seluruh aturan-Nya dalam kehidupan.
Artinya, kekuasaan itu bukan alat menikmati dunia, tetapi amanah untuk menegakkan hukum Allah dan menyejahterakan umat.
Kalau kekuasaan justru jadi alat menindas, maka itu bukan nikmat, tapi istidraj, yaitu kenaikan yang menipu sebelum jatuh.
Uban itu tidak pernah bohong Sob, dia jujur bilang, “Kamu sudah dekat…” Tetapi pilihan tetap di tangan manusia, apakah mau sadar atau tetap pura-pura muda?
Semoga kita tidak termasuk orang yang diingatkan berkali-kali, tetapi baru tersadar saat semuanya sudah terlambat. Masya Allah, semoga jadi pengingat. []
Oleh: Nabila Zidane
(Jurnalis)

0 Komentar